Selasa, 25 Mac 2014

Definisi Cinta dan Puisi

Cinta adalah ciptaan Tuhan, semua dan tiap butir pasir di dalamnya. Cintailah setiap daun, setiap sinar terang Tuhan. cintailah binatang, cintailah tanaman, cintailah semuanya. Apabila mencintai semua, kau akan melihat misteri ilahi dalam setiap makhluk. Begitu melihatnya, kau akan mula memahaminya lebih baik setiap hari. Dan kau akhirnya akan dapat mencintai seluruh dunia dengan kasih sayang meliputi segala-galanya........



 Asy Syu'ara:227 ﴿kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.


 





Image result for BISMILLAH
KONSEP TASAWUF CINTA DAN PSIKOLOGI CINTA DALAM PUISI SUFI 
                                         
 Definisi Cinta dan Puisi 
              

Pengertian Cinta dari Sudut Pandang 
                         Psikologis dan Tasawuf

                              

Cinta, satu kata yang memiliki ribuan makna. Manusia memiliki ketertarikan 
sendiri dalam merasakan, menggambarkan dan memaknai arti kata ini. Banyak 
ilmuwan tertarik dan berupaya membahas secara mendalam akan makna yang 
terkandung dibalik kata cinta dari berbagai aspek kajian keilmuwan, sosial, 
kesehatan, ilmu agama bahkan ilmu alam. Begitu pula dengan para psikologi dan 
ilmuwan psikologi. Mereka melakukan berbagai penelitian, membentuk konsep
konsep untuk menjelaskan akan arti cinta dari sudut pandang psikologis. 

Akar makna cinta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai 
suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat, ingin sekali, berharap sekali, atau 
khawatir. Sementara itu, dalam Kamus Psikologi terjemahan dari The Penguin 
Dictinory of Psikology, cinta merupakan perasaan khusus yang menyangkut 
kesenangan terhadap atau melekat pada objek; cinta bernuansa emosional jika muncul 
dalam pikiran. Dan dapat membangkitkan keseluruhan emosi primer sesuai dengan 
emosi dimana objek itu berada.22

Penggunaan istilah cinta dalam masyarakat Indonesia dan Malaysia lebih 
dipengaruhi perkataan love dalam bahasa Inggris. Love digunakan dalam semua 
amalan dan arti untuk eros, philia, agape dan storge. Namun  demikian  perkataaan
perkataan yang lebih sesuai masih di temui bahasa serantau dan di jelaskan 
seperti berikut:
a) Cinta yang lebih cenderung kepada romantis, asmara dan hawa nafsu, eros 
b) Sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga, philia 
c) Kasih yang lebih cenderung kepada keluarga dan Tuhan, agape 
d) Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme dan 
narsisme, storge 

Diantara banyaknya jumlah ilmuwan psikologi yang membahas mengenai 
cinta, penulis mencoba mengambil beberapa definisi untuk menjelaskan definisi 
cinta. 
Ashley Montagu, seorang Psikolog Amerika memandang cinta sebagai sebuah 
perasaan memperhatikan, menyayangi, dan menyukai yang mendalam. Biasanya, rasa 
cinta disertai dengan rasa rindu dan hasrat terhadap objek yang dicintai. Elain dan 
William Walsten lebih menekankan suatu keterlibatan individu yang mendalam saat 
mendefinisikan cinta. Keterlibatan diasosiasikan dengan timbulnya rangsangan 
fisiologis yang kuat dan diiringi dengan perasaan mendambakan pasangan dan 
keinginan untuk memuaskannya.23
Menurut Robert Sternberg, cinta adalah sebuah kisah yang ditulis oleh setiap 
orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang 
terhadap suatu hubungan. Menurutnya, kisah tersebut telah ada pada manusia dan 
proses pembentukkannya terbentuk melalui pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah 
ini pula yang akan membentuk bagaimana seseorang bersikap dan bertindak dalam 
suatu pola hubungan. Scott Peck yang sepanjang karirnya dalam psikologi berusaha 
menghasilkan karya dan menjelajahi definisi cinta dan kejahatan menggambarkan 
cinta sebagai kombinasi dari “perhatian akan perkembangan spiritual orang lain“ 
serta narcisisme biasa.24
Berbeda dengan psikolog dan ilmuwan psikologi lainnya, Erich Fromm 
menekankan cinta sebenarnya pada cinta yang dewasa. Cinta yang dewasa adalah 
penyatuan didalam kondisi tetap memelihara integritas seseorang, individualitas 
seseorang. Cinta adalah kekuatan aktif dalam diri manusia, kekuatan yang 
meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya, yang menyatukan 
dirinya dengan yang lain ; cinta membuat dirinya mengatasi perasaan isolasi dan 
keterpisahan, namun tetap memungkinkan dirinya menjadi dirinya sendiri, 
mempertahankan integritasnya.25
Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. 
Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu: 
Perasaan, Pengenalan, Tanggung jawab, Perhatian, Saling menghormati. Erich 
Fromm dalam buku larisnya (the art of loving) menyatakan bahwa ke empat gejala: 
Care, Responsibility, Respect, Knowledge (CRRK), muncul semua secara seimbang 
dalam pribadi yang mencintai. Omong kosong jika seseorang mengatakan mencintai 
anak tetapi tak pernah mengasuh dan tak ada tanggungjawab pada si anak. Sementara 
tanggungjawab dan pengasuhan tanpa rasa hormat sesungguhnya & tanpa rasa ingin 
mengenal lebih dalam akan menjerumuskan para orang tua, guru, rohaniwan dll pada 
sikap otoriter.26
Erich Fromm memandang manusia sebagai makhluk yang sadar akan dirinya, 
mempunyai kesadaran tentang dirinya, sesama, masa lalu, kemungkinan masa 
depannya dan kesadaran akan eksistensinya sebagai sesuatu yang terpisah. Sadar akan 
keterpisahan ini merupakan faktor utama munculnya kegelisahan, kecemasan dan 
dapat menjadi pintu gerbang menuju gangguan kejiwaan. Karenanya, dalam buku 
The Art Of Loving, Fromm menjelaskan bahwa kebutuhan manusia yang paling 
dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara 
kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan 
gangguan kejiwaan. 
Banyak cara dilakukan untuk mengatasi keterpisahan pada tiap individu. 
Fromm mengungkapkan idenya mengenai cinta sebagai jawaban dari masalah 
eksistensi manusia. Dalam cinta, terdapat jawaban utuh yang terletak pada 
pencapaian penyatuan antar pribadi dan peleburan dengan pribadi lain. Hasrat akan
peleburan antar pribadi ini yang paling kuat pengaruhnya dalam diri manusia. Inilah 
kerinduan mendasar, kekuatan yang menjaga rasa manusia, keluarga dan masyarakat 
untuk selalu bersama.27
Pandangan yang populer memandang dosa jika kita mencintai diri sendiri 
karena bersifat egois. Walaupun demikian, jika mencintai orang lain sebagai manusia 
adalah kemuliaan, bagaimana mungkin mencintai diri sendiri sebagai manusia adalah 
bukan kemuliaan? Fromm menyatakan bahwa mencintai diri sendiri adalah bukan 
alternatif. Mereka yang mampu mencintai orang lain juga akan mempunyai 
kemampuan mencintai diri sendiri. Pembenaran pada kehidupan seseorang, 
kebahagian, pertumbuhan, kebebasan tertanam pada kemampuan seseorang untuk 
mencintai. Contohnya kepedulian, penghargaan, dan pengetahuan. Jika seorang 
individu mampu mencintai secara produktif, berarti ia mencintai dirinya sendiri juga; 
namun ia hanya mampu mencintai orang lain, maka ia tidak bisa mencintai sama 
sekali. Bagi Fromm, mencintai diri sendiri dan egoisme adalah hal yang berlawanan, 
bukan identik. Leo Bscaglia menunjukkan versi populer dari cinta. Ia menyatakan: 
Cinta yang sempurna adalah jika seseorang memberikan segalanya dan tidak 
mengharapkan apa-apa. Jika seseorang mengharapkan apa-apa dan tidak meminta 
apa, ia akan pernah merasa dicampakka atau dikecewakan.28
Sedangkan dalam dunia tasawuf kata mahabah berarti cinta kepada Allah Swt. 
Tasawuf mendefinisikan mahabah sebagai kepatuhan kepada Allah dan menjauhi 
larangan-Nya; menyerahkan diri kepada seluruh Yang dikasihi; mengosongkan hari 
dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi. Al-Junaid menganggap mahabah 
sebagai suatu kecenderungan hati, maksudnya hari seseorang cenderung kepada Allah 
Swt. dan kepada segala sesuatu yang datang dari-Nya tanpa usaha. 
Menurut Al-Ghazali, cinta kepada Allah merupakan puncak dari segala 
maqam mistik. Setelah maqam cinta, tidak ada lagi maqam lain yang menandinginya.
Kalaupun ada, maqam itu hanya menjadi salah satu buah cinta saja seperti kerinduan 
(syawq), keintiman spritual (uns), rida dan maqam lain yang sejenis. Sebelum cinta 
juga tidak ada maqam lain. Kalaupun ada, pasti akan menjadi salah satu pengantarnya 
saja, seperti tobat, sabar, zuhud, dan yang lain. 
Perkataan dalam konteks ini dimaksudkan sebagai hubb atau mahabah dalam 
bahasa Arab. Al- Qusyairi mengumpulkan beberapa pendapat tentang cinta (hub atau 
mahabah) itu sebagai berikut. 
1. Cinta ( hub atau mahabah) yang berasal dari kalimat habba-hubbab-hibbun, 
yang berarti waddahu, mempunyai makna kasih atau mengasihi; 
2. Hubb berakar dari kata habb al-maa, adalah air bah; 
3. Cinta dinamakan mahabah sebab ia kepedulian yang paling besar dari cita 
hati; 
4. Cinta juga sering dianggap berasal dari kata habb (biji-bijian) yang 
merupakan jama’ dari habbat, dan habbat al-qalb adalah sesuatu yang 
menjadi penopangnya. Dengan demikian, cinta dinamai hubb sebab ia 
tersimpan di dalam kalbu; 
5. Ada yang menyebut bahwa kata hubb berasal dari kata hibbah, yang berarti 
biji-bijian dari padang pasir. Cinta dinamai hub dimaksudkan sebagai lubuk 
kehidupan, sebagaimana hubb sebagai benih tumbuh-tumbuhan; 
6. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa cinta berasal dari kata hibb, yakni 
tempat yang didalamnya ada air, dan manakala ia penuh, maka tidak ada lagi 
tempat bagi yang lainnya. Demikian pula dengan hati saat dilupai oleh cinta, 
tak ada tempat lagi dihatinya sebagai selain bagi kekasih. 
Cinta (mahabah) memiliki kedudukan yang penting sebab perjalanan tasawuf 
dimulai dari menegakkan ketauhidan di dalam diri, yakni dengan menjalani 
kehidupan asketik (zuhud). Dari zuhud inilah yang mengakibatkan tumbuhnya cinta, 
dan cinta inilah kehidupan tasawuf dengan ikhlas.29 Karena cinta adalah inti, esensi 
dari sufisme. Tujuannya adalah kesatuan antara sang pecinta dengan Tuhan yang 
Dicintai. Cinta dari Tuhan untuk manusia dan cinta balasan dari manusia kepada 
Tuhan telah menjadi landasan dari agama. Hal ini secara terus-menerus telah 
ditampilkan oleh para nabi, dan secara tegas diekpresikan dalam berbagai kitab suci.30
Memang sangatlah banyak pendapat mengenai cinta, namun pada dasarnya 
cinta merupakan sesuatu hal yang bersifat rohani untuk menuju kepada Tuhan Yang 
Maha Esa. Dalam perjalananya orang-orang yang menempuh jalan cinta penuh 
dengan berbagai pengalaman batin yang sifatnya rasa ketidakmampuan (muhasabah) 
serta kerinduan Pada-Nya. Maka dalam kerinduan atau kegelisahan seorang 
penempuh jalan cinta—para sufi—akan menuangkannya dalam bentuk sajak-sajak 
puisi. Hal ini sejalan apa yang dialami oleh Rabi’ah al-Adawiyyah sehingga 
pengalaman spiritualnya dalam mengagungkan keindahan Tuhan terangkum dalam 
kitabnya Nafahat al-Uns. Sumbangan terbesar bagi ilmu tasawuf terletak dalam 
keberhasilannya memberi corak mistisisme sejati pada tasawuf (Schimmel 1981, 38). 
Dengan gagasan-gagasannya menjadikan tasawuf tidak lagi hanya sebagai gerakan 
zuhud yang bersahaja. Berkat keberhasilannya tasawuf menjelma menjadi gerakan 
keruhanian yang memiliki prespektif sangat luas. Dengan menekankan pada 
pentingnya bahasa cinta dalam kehidupan ahli tasawuf Rabi’ah membuka jalan yang 
lebar bagi perkembangan awal puisi sufistik.31 Saking besar dan tulusnya cinta 
Rabi’ah kepada Allah, maka seolah cintanya telah memenuhi seluruh kalbunya. Tak 
ada lagi tersisa ruang di hatinya untuk mencintai selain Allah. Tak ada ruang lagi di 
kalbunya untuk membenci apapun, bahkan kepada setan sekalipun. Seluruh hatinya 
telah penuh dengan cinta kepada Tuhan semata. Hal ini juga Rabi’ah tunjukkan 
dengan memutuskan untuk tidak menikah sepanjang hidupnya, karena ia menganggap 
seluruh diri dan hidupnya hanya untuk Allah semata.32
Semenjak Rabi’ah al-Adawiyah mengungkapkan corak tasawuf melalui puisi, 
prosa, atau dialognya, ajaran cinta ilahi (mahabbah) pun mulai menjadi tema menarik 
di kalangan tasawuf. Gambaran tentang Tuhan pun tidak lagi begitu menakutkan 
seperti sebelumnya. Tuhan seolah menjadi lebih dekat dan lebih “manusiawi”. 
Pada perkembangan tasawuf selanjutnya, mahabbah selalu menjadi tema yang 
mendapat pembahasan secara khusus. Para sufi pun banyak yang membahas lebih 
mendalam tentang tema ini dalam karya-karya mereka, seperti al-Hujwairi dengan
Kasyf al mahjub, ath- thursi  dengan Al-luma, Al-Qusyairi dengan Ar- Risalah Al-
Qusyairiyyah, Al-ghazali dengan ihya Ulumiddin, Ibnu Arabi dalam al-futuhat al-
makkiyah dan lain-lain

Menurut Rumi, hanya cinta yang dapat membawa seorang pelaku sufi (saalik) 
berhasil dalam perjalanan mereka mencapai Diri Yang Tinggi sebab cinta merupakan 
cara unggul mencapai pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.33 Hal ini berarti 
bahwa hanya cinta yang dapat membawa mausia menyakini relaitas terdalam dan 
tertinggi dari segala sesuatu.
 Maka dari itulah mengapa pentingnya sebuah cinta, semua hal akan menjadi 
mudah yang akan memperlurus jalan hidup kepada Tuhan. Dan cinta disini lebih pada 
asahan ruhani atau bisa dikatakan cinta ruhani ialah cinta yang mistikal. Tujuan cinta 
mistikal ialah mewujudkan kesatuan hakiki diantara pecinta, kekasih dan cinta. Cinta 
mistikal mengatasi sifat kemanusian, membimbing jiwa seseorang menghampiri 
Tuhan dan menyebabkan terbitnya perasaan bersatu dengan-Nya, serta merupakan 
perwujudan dari cinta ilahi. Tujuan lain dari cinta mistikal ialah mengenal hakikat 
cinta (makrifat). Hakekat cinta sama dengan Wujud Tuhan itu sendiri. Menurut Ibn 
‘Arabi dasar dan sebab dari cinta ialah keindahan. kerena keindahan pula yang dapat 
membawa kita dekat kepada Yang Maha Indah. Yang Maha Indah disebut pula 
sebagai Yang Maha Sempurna (kamal). Sebagaimana manusia mencintai disebabkan 
keindahan-Nya, adalah manifestasi dari keindahan yang dicintai-Nya. Keindahan
Tuhan adalah sumber dari semua keindahan, baik keindahan ruhani maupun 
intelektual. Walaupun demikian keindahan Tuhan bebas dari segala rupa dan bentuk. 
Oleh karena itu yang dimaksud Ibn ‘Arabi dengan Wujud bukanlah wujud yang
mengambil rupa dan bentuk nyata, melainkan penampakan tuhan malalui     
sifat-sifatNya yang kewujudannya hanya dapat diselami dengan penglihatan batin, yaitu cinta 
(‘isyq).34

Cinta haruslah murni tanpa emebel-embel yang sudah di ungkapkan oleh 
Fromm di depan. Sangat banyak godaan di dunia yang dapat menjauhkan seorang 
dari Yang Dicintai. Godaan-godaan ini harus diatasi, karena tidak ada hati yang 
memiliki dua cinta, hanya ada satu cinta,. Pencinta sejati tidak akan beralih karena 
perbedaan fisik; mereka dinilai dari berdasarkan kesabaran mereka. Segalanya ingin 
menunggu seseorang yang ingin menunggu Tuhan. Menunggu merupakan hal yangg 
indah bagi pecinta.35

                              Pengertian Puisi 
Puisi merupakan bentuk sastra yang paling padat dan terkonsentrasi. 
Kepadatan komposisi tersebut ditandai dengan pemakaian sedikit kata, namun 
mengungkapkan lebih banyak hal. Sebab itu puisi dapat sebagai berikut: 
“Puisi dapat didefenisikan sebagai sejenis bahasa yang mengatakan lebih banyak 
dan lebih intensif daripada apa yang dikatakan oleh bahasa harian.36” 
Puisi adalah pengekspresian pemikiran yang membangkitkan perasaan yang 
merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan yang berirama. Perngertian puisi di 
atas mencakup arti cukup luas karena menafsirkan puisi sebagai hasil penjaringan 
penglaman yang dapat atau dialami oleh seseorang. Dan menyusunnya secara 
sistematis sebagai makna satu dan yang lainnya.
Dari pengertian di atas juga diartikan bahwa puisi merupakan karya seni yang 
erat hubungannya dengan bahasa dan jiwa. Tersusun dengan kata-kata yang baik 
sebagai hasil curahan lewat media tulis yang bersifat imajinatif oleh pengarangnya 
untuk menyoroti aspek kehidupan yang dialaminya. 
Atas dasar itulah penulis mengemukakan bahwa puisi pada hakikatnya adalah 
curahan perasaan si penciptanya sehingga keberadaan suatu puisi tidak terlepas dari 
keberadaan pikiran, perasaan, dan lingkungan si penciptannya. 
Jika seseorang menyelami sebuah puisi, berarti ia berusaha mencari siapa dan 
bagaimana keberadaan penciptanya atau penyairnya. Oleh sebab itu, 
mendeklamasikan puisi tidak lain dari mengepresikan makna sesuai dengan cita rasa 
penyairnya. 
Ditinjau dari pendekatan intuisi, puisi merupakan hasil karya yang 
mengandung pancaran kebenaran dan dapat diterima secara universal. Karenanya, 
karya puisi sangat dekat dengan lingkungannya, mudah diketahui bahkan sudah 
diketahui dan bukan sebaliknya menimbulkan keanehan atau bahkan kekaburan. 
Penjelmaan kembali suatu peristiwa yang tercurah lewat karya tulis puisi 
merupakan proses imajinasi yang matang yang berhasil lahir dengan energik dan 
alami.Untuk memberikan batasan pada puisi sangatlah sukar dilakukan secara pasti. 
Puisi mempunyai rangkaian unsur-unsur yang apabila salah satunya hilang atau 
terlepas, maka akan mengurangi makna universal yang terkandung dalam sebuah 
puisi.37
Jadi secara psikologi sebuah karya sastra merupakan sebuah penuangan yang 
disengaja atas sesuatu peristiwa masa lalu ataupun sebuah harapan. Dorongan kuat 
yang di akibatkan oleh sesuatu motivasi penulisan baik yang memperindah peristiwa 
dan harapan tersebut atau bahkan hanya sekedar mengenang peristiwa masa lalu
dengan bentuk tertulis. Tentunya memiliki sebuah alasan yang real semisal sebagai 
media untuk mengoreksi diri serta membentuk konsep diri yang lebih baik.38
Namun dalam kacamata tasawuf Puisi merupakan ungkapan-ungkapan puitis 
dijadikan media ekpresi dari perjalan spiritualitas, bahkan menjadi bagian dari ritus 
peribadatan. Kerena memiliki beberapa keuntungan sebagaimana mistisisme, puisi 
memang terutama bertalian dengan pengalaman batin manusi yang terdalam.seperti 
halnya puisi, pengalaman mistik itu sangat personal, unik sekaligus universal. 
Bahkan, dapat dinyatakan bahwa pengalaman mistik itu selalu megandung kualitas 
puitis atau estetik yang dalam juga memiliki kualitas mistik.39 Oleh sebab itu, melalui 
puisi yang berasil, kepersonal, keunikan, dan keuniversalan dapat terpelihara dengan 
baik.40
Sehingga sisi psikologi masa lalu tidak bisa akan terlepas, seperti halnya 
kematangan umur maupun lingkungan. Semisal para sufi mendapatkan pengalaman 
sprituaklnya sekitar umur 30 keatas. Karena unsur keyakinan terhadap ajaran agama 
dan unsur perlaksaan ajaran agama sudah terealisasi dengan berbagai godaan-
godaan  Semisal pola fikir kesadaran diri, penalaran, dan imajinasi. telah merusak
merobek keharmonisan manusia sebagai layaknya karena manusia bisa menjadi 
menyimpang dan menjadi aneh. Ia merupakan bagian dari alam, yang tunduk pada
hukum alam yang fisikal dan mekanistik yang tidak bisa diubah. Akan tetapi, ia 
menhatasi rest of nature. Ia merupakan perangkat bagian dari being, keberadaan 
ruang dan waktu yang lebih besar dalam satu sistem jagad raya. Dengan penalaran 
yang semakin membutakan manusia karena sebuah eksistensi yang belum juga 
terpecahkan.42 Sehingga pada titik tertentu manusia akan menggunakan daya fikirnya 
yang mengalami keterbatasan. Hal semcam inilah yang membuat manusia kembali 
pencarian terhadap diluar kempua dirinya—Tuhan. 
Pada bidang puisi, banyak para sufi yang juga sekaligus penyair yang 
kemudian menyenandung cinta ilahi, seperti Abu Sa’id bin Abi al-Khair, al-Jilli, Ibnu 
al-Faridh, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. Hingga sekarang, para penyair sufi 
kontemporer masih banyak yang menyenandungkan puisi-puisi cinta ilahi


(38 Anggadewi Moesono, Psikoanalisa dan sastra, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, 
Jakarta, 2003 
39 ….Pengalaman relegius demikian—pinjam pengertian Ludwig Wittgentein—dalam kenyataannya 
tak pernah bisa ditunjuk secara langsung sebab bukan pengalaman indrawi. Sementara itu, bahasa 
mempunyai keterbatasan hanya dapat mengungkapkan apa yang menjadi realitas indrawi. Karenanya, 
ada realitas yang dapat disentuh dengan bahasa, dan ada yang tidak (the unutterable). Meskipun begitu, 
ada yang disebut bahasa relegius, yang punya logika tersendiri, seperti pernah di unggkapakan Peter L. 
Berger. Bahasa relegius bersifat analogi, sebagain sama dan sebagain berbeda dengan bahasa dan 
situasi manusia sehari-hari. 
 Disamping itu, pengalaman relegius menurut Ludwig Wittgenstein bersifat konatif, yakni 
pengalaman yang dialami secara langsung antara subjek dan objek, berlangsung dalamtaraf tak sadar, 
dan karenanya berlangsung tanpa bahasa. Tetapi, saat subjek membahasakan pengalaman relegiusnya, 
maka aspek konatif itu masuk ke aspek reflektif, yakni pengalaman relegius yang telah terabtraksikan 
ke pola indrawi. Perpindahan ini dalam bahsa relegius berlangsung dengan jalan analogi. 
40 Abdul Wachid B.S, Tafsir Terhadap Puisi Sufi A. Mustofa Bisri Gandrung Cinta,..hal. 61 
41 M. Nur Ghufron & Rini Risnawati S, Teori-TeoriPsikologi, Ar-Ruzz media, Yogyakarta, 2010, hal. 
167 )

.                                Tingkatan Cinta 
Terdapat dua jenis cinta menurut Formm, cinta penyatuan simbiosis dan cinta 
yang dewasa. Penjelasannya yaitu : 
1. Penyatuan Simbiosis, yaitu memiliki pola hubungan antara pasif dan aktif 
dimana keduanya tidak dapat hidup tanpa yang lain. Bentuk pasif dari 
penyatuan simbiosis disebut sebagai ketertundukan (submission), dalam istilah 
klinis disebut sebagai Masokhisme. Pribadi yang Masokhisme keluar dari 
perasaan isolasi dan keterpisahan yang tak tertahankan dengan menjadikan 
dirinya bagian dan bingkisan pribadi lain yang mengatur, menuntun dan 
melindungi dirinya. Bentuk aktif dari penyatuan simbiosis disebut sebagai 
dominasi (domination), dalam klinis disebut sebagai sadisme. Pribadi yang 
sadistis ingin keluar dari kesendiriannya dengan membuat pribadi lain menjadi 
bagian dan bingkisan dirinya. 
2. Cinta yang dewasa, adalah penyatuan didalam kondisi tetap memelihara 
integritas seseorang, individualitas seseorang. Cinta adalah kekuatan aktif dalam 
diri manusia, kekuatan yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia 
dari sesamanya, yang menyatukan dirinya dengan yang lain. 
Dalam mengatasi keterpisahan pada manusia, hanya cinta yang dewasa yang 
dapat dijadikan jawaban terbaik. Karakter aktif dari cinta yang dewasa ditunjukkan 
dengan hasrat untuk memberi daripada menerima. Arti kata memberi disini yaitu 
perwujudan paling nyata dari potensi diri. Dalam setiap tindakan memberi, individu 
akan merasakan kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan atas dirinya sehingga memberi 
akan lebih membahagiakan daripada menerima. Sehingga manusia tidak akan 
memberi untuk menerima. Tetapi dalam batasan memberi yang sesungguhnya. 
Memberi yang sesungguhnya akan membuat orang lain menjadi pemberi. 
Dalam kaitannya dengan cinta, penjelasan makna memberi ini berarti : cinta 
adalah kekuatan yang melahirkan cinta. Pemikiran ini diungkapkan oleh Marx “ 
anggaplah manusia sebagai manusia, dan hubungannya dengan dunia sebagai 
hubungan manusia, dan anda dapat bertukar cinta hanya dengan cinta, kepercayaan 
dengan kepercayaan, dan seterusnya. 
Selain tindakan memberi, karakter aktif dari cinta terlihat jelas dalam kenyataan 
bahwa cinta selalu mengimplikasikan unsur-unsur dasar tertentu. Unsur-unsur dasar 
dari cinta yaitu Perhatian (Care), Tanggungjawab (Responsibility), Rasa Hormat 
(Respect) dan Pengetahuan (Knowledge). Fromm menjabarkannya sebagai berikut : 
3. Perhatian (Care) 
Cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang 
kita cintai. Implikasi dari cinta yang berupa perhatian terlihat jelas dari perhatian 
tulus seorang ibu kepada anaknya. 
4. Tanggungjawab (Responsibility) 
Tanggungjawab dalam arti sesungguhnya adalah suatu tindakan yang 
sepenuhnya bersifat sukarela. Bertanggungjawab berarti mampu dan siap 
menganggapi. 
5. Rasa Hormat (Respect)
Rasa hormat bukan merupakan perasaan takut dan terpesona. Bila menelusuri 
dari akar kata (Respicere = melihat), rasa hormat merupakan kemampuan untuk 
melihat seseorang sebagaimana adanya, menyadari individualitasnya yang unik. Rasa 
hormat berarti kepedulian bahwa seseorang perlu tumbuh dan berkembang 
sebagaimana adanya. Dalam lagu prancis kuno dikatakan “l’amour est l’enfant de la 
liberte“ atau cinta adalah anak kebebasan, sama sekali bukan dominasi.
 6. Pengetahuan (Knowledge) 
Pengetahuan yang menjadi satu aspek dari cinta adalah pengetahuan yang tidak 
bersifat eksternal, tetapi menembus hingga ke intinya. 
Perhatian, tanggungjawab, rasa hormat dan pengetahuan mempunyai 
keterkaitan satu sama lain. Semuanya merupakan sindrom sikap yang terdapat dalam 
pribadi yang dewasa, yaitu dalam pribadi yang mengembangkan potensi dirinya 
secara produktif
Berbeda dengan Fromm yang menekankan mengenai sebab, akibat dan aspek-
aspek yang menimbulkan cinta dalam penjelasan teori cintanya, Sternberg lebih 
menekankan pada penjelasan mengenai komponen pembentuk cinta dan beragam 
jenis cinta yang dihasilkan dari kombinasi tiap komponen. 
Teori mengenai komponen cinta disebut pula sebagai teori segitiga cinta. 
Segitiga cinta mengandung 3 komponen sebagai berikut: 
a). Keintiman (Intimacy) 
Keintiman adalah elemen emosi, yang didalamnya terdapat kehangatan, 
kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan. 
b). Gairah (Passion) 
Gairah adalah elemen motivasional yang disadari oleh dorongan dari dalam 
diri yang bersifat seksual. 
c). Komitmen 
Komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung 
dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama. (Tambunan, 2001). 
Kombinasi dari ketiga komponen cinta ini dapat membentuk 8 pola hubungan 
cinta sebagai berikut : 
a). Liking (Suka) 
Seseorang yang hanya mengalami komponen keintiman saja, tanpa adanya gairah dan 
komitmen 
b). Infatuated (tergila-gila) 
Cinta ini muncul karena adanya hasrat / gairah tanpa disertai keintiman dan 
komitmen. 
c).Empty Love. 
Cinta ini berasal dari adanya komitmen pada individu tanpa adanya hasrat dan 
keintiman. 
d).Romantic Love 
Cinta ini muncul dari kombinasi antara keintiman dan hasrat tapi tanpa disertai oleh 
komitmen. 
e).Companionate Love 
Cinta ini muncul dari kombinasi antara keintiman dan komitmen. Biasanya cinta ini 
muncul dalam persahabatan yang mana tidak melibatkan hasrat. 
f)Fatuous Love 
Cinta ini muncul dari kombinasi hasrat dan komitmen tanpa adanya keintiman. 
g).Non Love 
Ketiga komponen cinta tidak ada pada pola cinta ini. Pola ini biasanya muncul dalam 
hubungan dengan sekitar yang tidak menetap. 
h).Consummate Love 
Cinta ini muncul dari kombinasi ketiga komponen cinta (keintiman, hasrat dan 
komitmen). Cinta ini disebut juga sebagai cinta yang utuh. (Popsy, 2007) 
Penjelasan mengenai definisi dan teori-teori cinta diatas dapat memberi 
sumbangan penting dalam memahami cinta sebagai suatu kekuatan positif dalam diri 
setiap individu. Secara klinis, cinta dapat berperan baik dalam preverensi maupun 
intervensi suatu penyakit mental. Sesuai penjelasan Erich Fromm, cinta yang dewasa
dapat menjadi jawaban atas eksistensi menusia yang berupa keterpisahan. Dengan 
cinta, keterpisahan dan kesendirian akan teratasi sehingga menjadi suatu pencegahan 
(preverensi) dari munculnya suatu kegelisahan bahkan gangguan kejiwaan. 
Sesuai dengan penjelasan Abraham Maslow mengenai teori motivasi, cinta 
merupakan salah satu tingkatan dari hierarki kebutuhan pada manusia. Kebutuhan 
cinta merupakan fase sementara dalam pertumbuhan manusia dan merupakan 
penggerak ke fase-fase selanjutnya. Berbagai penelitian dilakukan dalam usaha 
mencari keterkaitan antara perasaan cinta dengan kesehatan pada fisik dan psikis 
seseorang. Jurnal Neuroendrocrinology Letters Vol. 26 tahun 2005 (WordPress, 
2008) menerbitkan tulisan ilmiah yang tegas menyatakan bahwa cinta baik untuk 
kesehatan fisik dan mental. Keterlekatan sosial yang ditimbulkan oleh perasaan cinta 
dapat mengobati dan mencegah penyakit depresi bahkan autisme. Lebih jauh, dalam 
jurnal itu disebutkan bahwa Cinta membantu individu dalam menghadapi kesulitan 
hidup dan membantu sistem kekebalan tubuh untuk memperbaiki dan menjaga 
kesehatan tubuh. 
Penelitian di Yale University terhadap 119 pria dan 40 wanita yang menjalani 
pemeriksaan pembuluh darah koroner juga membuktikan akan adanya pengaruh 
positif cinta terhadap kesehatan individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 
kelompok yang merasa paling dicintai dan didukung oleh pasangannya memiliki 
lebih sedikit penyumbatan di arteri jantung daripada kelompok lainnya.
Namun menurut al-Ghazali, cinta kepada Allah (mahabbah) merupakan 
tingkatan (maqam) puncak dari rangkaian tingkatan dalam tasawuf. Tak ada lagi 
tingkatan setelah mahabbah selain hanya sekedar efek sampingnya saja, seperti rindu 
(syauq), mesra (uns), rela (ridla), dan sifat-sifat lain yang serupa. Di samping itu, 
tidak ada satu tingkatan pun sebelum mahabbah selain hanya sekedar pendahuluan 
atau pengantar menuju ke arah mahabbah, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lain-
lain. Cinta sebagai maqam ini juga diamini oleh Ibn Arabi. Menurutnya, cinta 
merupakan maqam ilahi.
Berbeda dengan al-Ghazali, menurut al-Qusyairi, mahabbah merupakan 
termasuk hal. Bagi al-Qusyairi, cinta kepada Tuhan (mahabbah) merupakan suatu 
keadaan yang mulia saat Tuhan bersaksi untuk sang hamba atas keadaannya tersebut. 
Tuhan memberitahukan tentang cinta-Nya kepada sang hamba. Dengan demikian, 
Tuhan disifati sebagai yang mencintai sang hamba. Selanjutnya, sang hamba pun 
disifati sebagai yang mencintai Tuhan.
Dilihat dari segi orangnya, menurut Abu Nashr ath-Thusi, cinta kepada Tuhan 
terbagi menjadi tiga macam cinta. Pertama, cinta orang-orang awam. Cinta seperti ini 
muncul karena kebaikan dan kasih sayang Tuhan kepada mereka. Ciri-ciri cinta ini 
adalah ketulusan dan keteringatan (zikir) yang terus-menerus. Karena jika orang 
mencintai sesuatu, maka ia pun akan sering mengingat dan menyebutnya.
Kedua, cinta orang-orang yang shadiq dan mutahaqqiq. Cinta mereka ini 
timbul karena penglihatan mata hati mereka terhadap kekayaan, keagungan, 
kebesaran, pengetahuan dan kekuasaan Tuhan. Ciri-ciri cinta ini adalah “terkoyaknya 
tabir” dan “tersingkapnya rahasia” Tuhan. Selain itu, ciri lain adalah lenyapnya 
kehendak serta hilangnya semua sifat (kemanusiaan dan keinginan duniawi).
Ketiga, cinta orang-orang shiddiq dan arif. Cinta macam ini timbul dari 
penglihatan dan pengenalan mereka terhadap ke-qadim-an cinta Tuhan tanpa sebab 
(illat) apapun. Menurut Zunnun al-Mishri, sifat cinta ini adalah terputusnya cinta dari 
hati dan tubuh sehingga cinta tidak lagi bersemayam di dalamnya, namun yang 
bersemayam hanyalah segala sesuatu dengan dan untuk Allah. Sedangkan menurut 
Abu Ya’qub as-Susi, cirinya ialah berpaling dari cinta menuju kepada Yang Dicintai. 
Sementara al-Junaid menambahkan bahwa ciri cinta macam ini adalah meleburnya 
sifat-sifat Yang Dicintai kepada yang mencintai sebagai pengganti sifat-sifatnya.
                                           
                               Dasar Cinta
Dalam kebudayaan modern berkembang pemahaman bahwa bersikap egois 
(mementingka diri sendiri) adalah sebuah sikap yang harus dihindari. Berfikir egois 
adalah sebuah dosa. Sebaliknya, mencintai orang lain adalah tindakan mulia. Tentu 
saja, pengertian ini menjadi kontradiktif dalam praktik kehidupan masyarakat 
modern, yang lebih didominasi pemahaman perlunya mementingkan diri sendiri; dan 
kendali imperatif ini juga berarti melakukan yang terbaik untuk kebaikan umum. 
Eksistensi dari tipe yang terakhir tidak dipengaruhi eksistensi tipe pertama, yang 
secar terus menerus menyakinkan kita bahwa egoism adalah dosa besar dan mencintai 
orang lain adalah kebajikan. Mementingkan diri sendiri, yang sering digunakan dalam 
terminologi ini, diartikan sama dengan mencintai diri sendiri.
Karena ajaran cinta memiliki dasar dan landasan, baik di dalam Alquran 
maupun Sunah Nabi SAW. Hal ini juga menunjukkan bahwa ajaran tentang cinta 
khususnya dan tasawuf umumnya, dalam Islam tidaklah mengadopsi dari unsur-unsur 
kebudayaan asing atau agama lain seperti yang sering ditudingkan oleh kalangan 
orientalis. Semisal tertuang dalam QS. Al-Baqarah ayat 165 ; 

 artinya “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan
tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah. Dan jika 
seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat 
siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa 
Allah amat berat siksaan-Nya ( Dan dalam hadist 
disebutkan sebagai berikut;

Artinya “tiga hal yang barang siapa mampu melakukannya, maka ia akan 
merasakan manisnya iman, yaitu: pertama Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai 
daripada selain keduanya; kedua: tidak mencintai seseorang kecuali hanya karena 
Allah; ketiga benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke 
neraka.”

Sedangkan secara filosofis cinta Dalam mengelaborasi dasar-dasar filosofis 
ajaran tentang cinta (mahabbah) ini, al-Ghazali merupakan ulama tasawuf yang 
pernah melakukannya dengan cukup bagus. Menurut beliau, ada tiga hal yang 
mendasari tumbuhnya cinta dan bagaimana kualitasnya. Yang pertama cinta tidak 
akan terjadi tanpa proses pengenalan (ma’rifat) dan pengetahuan (idrak). Manusia 
hanya akan mencintai sesuatu atau seseorang yang telah ia kenal. Karena itulah, 
benda mati tidak memiliki rasa cinta. Dengan kata lain, cinta merupakan salah satu 
keistimewaan makhluk hidup. Jika sesuatu atau seseorang telah dikenal dan diketahui 
dengan jelas oleh seorang manusia, lantas sesuatu itu menimbulkan kenikmatan dan 
kebahagiaan bagi dirinya, maka akhirnya akan timbul rasa cinta. Jika sebaliknya, 
sesuatu atau seseorang itu menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan, maka tentu ia 
akan dibenci oleh manusia. Kedua cinta terwujud sesuai dengan tingkat pengenalan 
dan pengetahuan. Semakin intens pengenalan dan semakin dalam pengetahuan 
seseorang terhadap suatu obyek, maka semakin besar peluang obyek itu untuk 
dicintai. Selanjutnya, jika semakin besar kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh 
dari obyek yang dicintai, maka semakin besar pula cinta terhadap obyek yang dicintai 
tersebut. Kenikmatan dan kebahagiaan itu bisa dirasakan manusia melalui 
pancaindranya. Kenikmatan dan kebahagiaan seperti ini juga dirasakan oleh binatang. 
Namun ada lagi kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan bukan melalui 
pancaindra, namun melalui mata hati. Kenikmatan rohaniah seperti inilah yang jauh 
lebih kuat daripada kenikmatan lahiriah yang dirasakan oleh pancaindra. Dalam 
konteks inilah, cinta terhadap Tuhan terwujud. Ketiga manusia tentu mencintai 
dirinya. Hal pertama yang dicintai oleh makhluk hidup adalah dirinya sendiri dan 
eksistensi dirinya. Cinta kepada diri sendiri berarti kecenderungan jiwa untuk 
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menghindari hal-hal yang bisa 
menghancurkan dan membinasakan kelangsungan hidupnya. 
Ajaran cinta ilahi yang dikumandangkan oleh tasawuf sebenarnya bisa 
dijadikan sarana kita untuk lebih memperhalus jiwa. Kehalusan jiwa yang dihasilkan 
oleh tasawuf ini diperlukan agar agama tidak selalu dipahami secara legal-formalistik 
belaka yang biasanya ditampilkan oleh kalangan ahli fikih. Dengan demikian, agama 
pun diharapkan bisa menjadi berwajah toleran, humanis, dan menerima realitas 
pluralistik yang ada di tengah di masyarakat. 
Meski demikian, ajaran cinta dalam Alquran sendiri, juga menghendaki 
keseimbangan antara sisi individual dan sosial; antara emosional dan rasional. Dari 
term-term cinta yang ditampilkan Alquran justru bersifat dinamis dan menghendaki 
aktualisasi riil dalam realitas sosial. Cinta dalam Alquran hampir selalu ditempatkan 
dalam konteks untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan sosial.

                  Hakikat dan Faktor Penyebab Cinta 
Membahas cinta itu tidak terlepas dari hakikat, syarat, dan faktor penyebab 
cinta. Maka, berikut penjelasan mengenai hakikat cinta:Prinsip pertama cinta 
mengenal terlebih dulu objek yang menjadi sasaran cinta itu, sebelum 
mendeskripsikan cinta. Sebab, kenyataannya manusia hanya mencintai apa yang ia 
kenal. Cinta itu sendiri juga tidak pernah dialami benda-benda mati. Cinta hanya dialami benda-benda hidup yang sudah terlebih dulu mengenal objek yang 
dicintainya. 
Ada tiga jenis objek yang dikenal manusia. Pertama, objek yang sesuai dan 
seirama dengan naluri kemanusiaannya, yang bisa menimbulkan perasaan puas dan 
nikmat. Kedua, objek yang bertentangan dan berlawanan dengan naluri 
kemanusiaannya, yang menimbulkan perasaan pedih dan sakit. Ketiga, objek yang 
tidak menimbulkan pengaruh apa-apa terhadap naluri kemanusiaannya. Tidak 
menikmatkan juga tidak menyakitkan. 
Jika objek itu menimbulkan kesan kenikmatan dan kepuasan, pasti akan 
dicintai. Jika objek itu menimbulkan kesan yang menyakitkan, pasti akan dibenci. 
Dan, jika objek itu tidak menimbulkan kesan apa-apa, pasti tidak akan dicintai atau 
dibenci. 
Jika demikian, manusia baru akan mencintai sesuatu yang nikmat kalau ia 
sudah merasakan nikmatnya sesuatu itu. Yang dimaksud cinta di sini adalah rasa 
yang secara naluriah cenderung atau suka terhadap sesuatu tertentu. Sementara itu, 
yang dimaksud benci adalah rasa yang secara naluriah membuat berpaling dari 
sesuatu tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan, cinta adalah suatu ungkapan 
akan kecenderungan hati terhadap segala sesuatu yang menimbulkan kenikmatan dan 
kepuasan. Jika kecenderungan itu menguat dan bertambah besar, maka itu yang 
dinamakan dengan ‘isyq (cinta yang memabukkan). Bila demikian dengan cinta, 
maka benci adalah suatu ungkapan akan keberpalingan hati dari sesuatu yang 
menyakitkan dan membosankan. Jika kecenderungan negatif ini menguat, makan itu 
yang dinamakan dengan maqt (kebencian yang memuncak). 
Prinsip kedua cinta adalah mengenal ragam cinta. Karena cinta muncul setelah 
terlebih dulu mengenal dan mengetahui, itu berarti cinta memiliki banyak ragam, 
sesuai dengan objek yang dikenal dan diketahuinya serta indra yang ada. Setiap indra 
mengenal hanya satu jenis objek. Masing-masing hanya merasa nikmat terhadap 
objek tertentu saja Nikmat yang dirasakan indra penglihat adalah memandang dan mengetahui 
objek yang indah serta gambar atau lukisan yang bagus, elok, dan mengesakan. 
Nikmat yang dirasakan indra pendengar adalah mendengarkan simfoni yang indah 
dan menggetarkan. Nikmat yang dirasakan indra pencium adalah mencium aroma 
yang harum. Nikmat yang dirasakan indra perasa dalah mencicipi makanan yang 
enak-enak. Nikmat yang dirasakan indra peraba adalah sentuhan-sentuhan halus dan 
lembut. 
Karena masing-masing objek yang dikenal pancaindra itu menimbulkan 
kenikmatan tersendiri, ia pun dicintai oleh indra itu. Artinya, naluri sehat kita 
menyukainya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga hal yang aku 
cintai dari dunia ini: parfum, wanita, dan kenikmatan dalam salat.” Dalam hadis ini 
parfum disebut sebagai sesuatu yang beliau cintai. Padahal seperti diketahui, parfum 
hanya dirasakan oleh indra pencium, bukan indra penglihat atau pendengar. Wanita 
juga disebut sebagai sesuatu yang beliau cintai. Padahal kita ketahui, yang merasakan 
nikmatnya wanita hanyalah indra penglihat dan peraba, bukan indra pencium, perasa, 
dan pendengar. Demikian pula salat disebut sebagai sesuatu yang paling beliau cintai. 
Padahal kita ketahui, yang merasakan nikmatnya salat itu bukan indra yang lima, 
tetapi indra keenam yang disebut dengan hati. Oleh karenanya, hanya orang yang 
mempunyai hati yang bisa merasakan betapa nikmatnya salat. 
Indra yang lima dimiliki baik oleh manusia maupun binatang. Apabila cinta 
hanya sebatas apa yang dikenali pancaindra, maka timbul pertanyaan. “Mungkinkah 
Allah Swt. dicintai, sementara Dia tidak dapat dikenali lewat pancaindra dan tidak 
dapat digambarkan dalam khayal?” Lebih lanjut, jika hanya mengandalkan 
pancaindra, maka pertanyaanya, “Apa ciri khas manusia sebagai makhluk?” Manusia 
itu istimewa karena dilengkapi dengan fasilitas istimewa berupa indra keenam berupa 
akal, nur, hati, atau apa pun istilahnya. 
Dengan demikian, pandangan mata batin jauh lebih kuat dibandingkan 
pandangan mata lahir. Hati memiliki kemampuan mengetahui yang jauh lebih besar 
dibandingkan mata. Keindahan rohani yang diperoleh dengan kekuatan akal jauh lebih mengesankan dibandingkan keindahan gambar atau lukisan yang ditangkap 
indra penglihat. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa kenikmatan yang dirasakan 
hati—setelah ia mengetahui berbagai nilai keagungan dan ketuhanan yang tidak 
mampu dicapai oleh pancaindra—jauh lebih sempurna dan lebih memuncak. Tak 
heran bila kecenderungan naluri dan akal sehat kepada yang demikian itu pasti lebih 
kuat. Dan, cinta tidak dapat diartikan lain kecuali sebagai kecenderungan atau 
kesenangan terhadap sesuatu yang diketahui bisa memberikan kenikmatan. 
Prinsip ketiga adalah mengenali untuk siapa cinta itu diberikan. Seperti diketahui, 
manusia jelas mencintai dirinya sendiri. Jika ia mencintai orang lain, itu pun demi 
dirinya sendiri. Bisakah tergambar dalam pikiran kita, manusia mencintai orang lain 
demi orang lain, bukan demi dirinya sendiri? Saya yakin masalah ini akan sulit 
dipahami oleh orang yang kualitas pemikirannya masih dangkal. Bahkan, bagi orang 
yang demikian, sungguh tidak masuk akal membayangkan seseorang mencintai orang 
lain demi orang lain itu. Tidak ada timbal balik apa pun terhadap orang yang 
mencinta itu kecuali semata-mata karena dia mengenal orang lain yang dicintainya 
itu. Tidak ada yang berhak untuk dicintai kecuali Dia. Dia itu Allah Swt.
                              Cinta, Puisi Dan Pengalaman Mistik 
Kegiatan perpusian yang masih berbentuk syair yang bersifat transendental 
serta puji-pujian sudah sejak lama dalam kancah Islam pada saat zaman rasullah 
SAW sendiri, meskipun bukan penyair, tidak pernah diajari bersyair, dan memang 
menurut Allah tidak layak bersyair (QS. 36:39), namun dalam kehidupannya sangat 
akrab dengan syair-bersyair; karena pada masa itu syair memang tidak dipisahkan 
dari kehidupan orang Arab. Para penentang Nabi SAW menggunakan Syair untuk 
menyerangnya dan menyerang kaum mukminin. Dan penyair mukminin, seperti 
Hisaan ibn Tsaabit, Ka’b ibn malik, dan Abdullah ibn Rawahah, diizinkan Rasullah 
SAW untuk melawannya dengan bersyair pula. Rasullah SAW mendengarkan orang bersyair dan memuji syair yang baik; bahkan pernah rasul secara spontan 
menghadiahkan burdah, sejenis pakain hangat yang dipakainya kepada Ka’b ibn 
Zuhair, begitu penyair keenaman ini selesai membaca syair-syair Banat Su’ad-nya 
yang terkenal itu.
Sebuah karya sastra yang tergolong sufistik (selanjutnya disebut sastra sufi) 
tidak lain adalah karya sastra yang mempersoalkan prinsip keesaan Tuhan (prinsip 
Tauhid), prinsip ke-Ada-an Tuhan, prinsip fana-baka, prinsip penetrasi Tuhan dan 
kehendak bebas manusia, serta derivasi yang berkaitan dengan prinsip-prinsip 
tersebut. Artinya, sastra sufi merupakan sastra transendental karena pengalaman 
mistik yang diungkapkan memang merupakan pengalaman yang berkaitan dengan 
kenyataan transendental. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa sastra sufi mengabaikan 
dimensi sosial kehidupan. Sebagai sastra transendental ia mengutamakan makna 
bukan bentuk, mementingkan yang spiritual bukan yang empiris, yang di dalam 
bukan yang di permukaan . Pengutamaan makna di atas bentuk, yang spiritual di 
atas yang empiris dalam karya-karya transendental ini searah dengan tujuan tasawuf 
itu sendiri. Dengan mengetahui makna tasawuf, walaupun secara ringkas dan terbatas, 
maka sesungguhnya kita telah mengetahui sastra sufi sebab kandungan sastra sufi 
tiada lain ialah tasawuf. 
Dalam sastra relegius, disamping sastra sufistik, ada juga istilah sastra 
profertik dan sastra sufi namun memiliki beda pengertian dengan sastra sufistik. 
Sastra profetik adalah sastra yang merujuk pada pemahaman dan penafsiran kitab suci 
atas realitas dan memiliki epitemologi strukturalisme transendental. Ini berarti, 
seluruh karya sastra yang bersumber dari kitab suci entah Al-Quran, Injil, taurat dan 
kitab-kitab suci yang lain dapat dikatakan sastra profetik. Satra sufi merujuk pada 
karya sastra yang diciptkan oleh orang sufi, sedangkan sastra sufistik merujuk pada 
teks sastra yang megandung ajaran kesufian. Sastra sufistik maupun sastra sufi 
kadang juga bersumber pada Al-Quran. Dengan kata lain, sastra sufistik dan sastra 
sufi pada saat tertentu merupakan sastra profetik. Dari beberapa penjabaran diatas 
kata kunci puisi yang bersifat sufistik ialah jalan kerohanian yang berasaskan tauhid. 
Keberangkatan puisi sufistik memang terlahir dari kondisi seorang salik 
dalam menempuh jalan spiritual. Sebab pengalaman spiritual—mistik—akan 
menumbuhkan jiwa muhasabah untuk mencapai kondisi yang lebih baik. Secara 
psikologi seseorang yang dihadapakan sebuah pengalaman spiritual selalu berusaha 
patuh terhadap ajaran-ajaran agamanya, selalu mempelajari pengetahuan agama, 
menjalankan ritual agama, doktrin-doktrin agamanya, selanjutnya merasakan 
pengalaman-pengalaman spiritualnya. Sehingga hal tersebut mampu 
melaksanakannya dalam tataran perilaku mauapun sikap. 
Dalam penuangan pengalaman spiritual—berbentuk puisi—seorang sufi 
tidaklah bermain pada kata-kata namun lebih pada sebuah makna. Tidak terjebak 
pada pola kata serta keindahan kata, karena pengalaman spiritual dalam jalan cinta 
merupakan sebuah keindahan tersendiri. Penggunaan bahasa sederhana serta kata 
yang memiliki kekuatan makna personal dan emosional yang dikandungnya atau bisa 
disebut makna konotatif. 
Kata bermakna yang dimiliki oleh seseorang—saalik atau yang lain—
didasarkan pada pengalaman masa lalu. Ketika seseorang berfikir tentang warna biru, 
maka akan berfikir tentang benda-benda yang dilihat dan dikatakan sebagai biru. 
Sesungguhnya, tidak melihat sebuah benda apapun, biru atau tidak, karena segala 
yang dilihat merupakan refleksi dari pantulan cahaya. Tidak ada dua orang yang 
mendekati makna yang sama untuk sebuah kata, karena tidak ada dua orang yang 
memiliki pengalaman yang sama. Semisal, apakah anda pernah mencintai? Makna 
cinta didasarkan pada pengalaman anda akan cinta. Seseorang bisa membaca setiap 
buku yang menulis tentang cinta, tetapi tetap tidak ada yang akan tahu apa cinta itu sampai ia benar-benar mengalaminya. Masalah sesunggunya tidak bisa diekpresikan 
dalam kata-kata secara tepat. Kata-kata tidak bisa mengandung segala hal yang 
abstrak secara akurat, segala sesuatu yang benar maknanya.
Dalam perkembangannya perpuisian sufistik lebih menuju pada 
“cinta” yang dipromotori pertama kali sejak zaman Rabi’ah al-Adawiyyah pada abad 
ke-8 sampai Muhammad Abduh pada abad ke-20. Cinta merupakan gabungan dari 
berbagai unsur perasaan dan keadaan jiwa seperti uns (kehampiran), syawq 
(kerinduan), mahabbah (kecenderungan hati) dan lain-lain. Walaupun sebagian sufi 
menganggap cinta lebih tinggi dari ma’rifat, sebagian yang lain memandang bahwa 
peringkat cinta berada di bawah ma’rifat, dan yang lain menganggap bahwa peringkat 
cinta dan ma’rifat sama. Menurut Imam al-Ghozali, cinta tidak mungkin ada tanpa 
ma’rifat, sebab orang hanya dapat mencintai apabila seseorang itu mengenal atau 
mengetahui sesutau yang dicintainya. Sedangkan Ibn sina memandang bahwa wujud 
tertinggi dari cinta ialah persatuan mistik dengan merujuk kepada hadis, yang 
maksudnya “Dia mencintai-KU dan Aku mencintainya” (“asyiqu wa ashiqtuhu). 
Walaupun al-Quran tidak memakai kata isyq tetapi mahabbah, namun Rumi 
berpendapat bahwa dua istilah itu tidak berlawanan. Menurut Rumi “isyq ialah 
mahabbah yang tidak terbilang banyaknya.” Pendapat Rumi akan dapat dipahami 
apabila dirujuk kapada pendapatnya bahwa isyq merupakan cara yang unggul dalam 
mencapai pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu, sebab cinta membawa 
seseorang jauh ke balik keraguan dan kenyataan. Ini berarti bahwa hanya cinta yang 
dapat membawa kita menyakini realitas terdalam dan tertinggi segala sesuatu.
Disinilah pentingnya meneliti puisi sufistik sebab puisi menjadi media ekpresi 
terpenting bagi sufi dalam menyampaikan pengalaman cinta ilahiyahnya. Pengalaman 
penyatuan dengan ilahiyah menjadi tujuan utama dari ritual hidup para sufi, dan puisi 
menjadi bagian ritus itu. Kenikmatan pertemuan antara sufi dan Allah itu tidak dapat dilukiskan 
dengan kata-kata biasa, karenanya para sufi menggunakan ungkapan-ungkapan tamsil 
dan metafora agar mabuk kepada Allah itu bisa diungkapkan. Karena pengalaman 
cinta yang paling maksimal yang pernah dialami manusia adalah penyatuan antara 
laki-laki dan perempuan dalam bercinta, maka pencitraan cinta erotik itu dijadikan 
perbandingan untuk m,enggambarkan nikmatnya bercinta dengan Allah.63 Hal ini 
semcam ini dibantah oleh Freud bahwasanya manusia mengindoktrinasi untuk 
mempercayai ilusi serta rasa ketergantungan pada sesuatu yang abtrak dan tidak 
rasional. Namun alasan psikologis yang Freudian ungkapkan terhadap 
kecenderungan manusia itu, tentu saja dalam pemikiran sufisme tidaklah cukup 
berhenti disitu. Akan tetapi, pencitraan cinta erotik sepasang kekasih itu lebih 
didasarkan pada alasan memuliakan wanita sebagai ciptaan Allah, yang lebih 
merepresentasikan kesempurnaan sebagai tanda keindahan Allah dibandingkan 
ciptaan-Nya yang lain. Dengan demikian, sesunggugnya puisi sufi sebagaimana 
tasawuf itu sendiri, yang menggambarkan hubungan keindahan Yang MahaSatu 
dengan keindahan objek yang bermacam-macam di alam syahadah. Dengan 
demikina pula, puisi sufi merupakan bentuk dari penyaksian (syahadah) dan 
perenungan (musyahadah) akan keesaan Tuhan, tujuannya ialah menimbulkan 
pencerahan kesadaran terhadap pengetahuan (makrifat) tentang diri dan Tuhan 
sehingga sampai kepda Cinta Illahiah.  

 MeNciNtai bUkAn kErNa TeRpAksA, bErAmAL BuKaN kErNa uPaH dAn GaNjArAn.. SeBeNaR-bEnAr CiNtA aGuNg, kEiKhLaSaN tIdAk mEnDoRoNg HaTi uNtUk dEbU-DeBu DuNiA.

 Sufi ialah manusia yang paling tentram jiwanya sebab mereka selalu bersama Allah SWT. “mereka 
adalah makhluk yang paling berharga desah nafasnya, paling bercahaya jiwanya, paling tidak 
membutuhkan kekayaan, dan paling baik kehidupannya. Mereka adalah makhluk yang selalu bersedih 
atas sesuatu yang oleh manusia biasa disedihkan. Yang dicari oleh sufiialah ‘sesuatu’ yang 
ditinggalkan oleh manusia biasa dan mereka lari terbirit-birit dari sesuatu yang dicari oleh manusia 
biasa, yaitu orang-orang yang lalai dan suka menipu. Para sufi merasakan keakraban ketika manusia 
merasa risau, sebab keakraban mereka adalah bersama Allah.(Dr. Amin An-Najar, Psikoterapi Sufistik, 

PT Mizan Publika, Jakarta, 2004, hlm 5) 




1 ulasan: