Selasa, 20 Mac 2018

HADITS DHAIF & MAUDHU


HADITS PALSU DAN SEJARAH MUNCULNYA

Kemunculan Hadits palsu dimulai bersamaan dengan terjadinya konflik intern dalam kubu umat Islam. Orang-orang yang terlibat dalam pertikaian konflik politik dalam kubu umat Islam itulah yang menjadi dalang dari kemunculan hadits-hadits palsu. Pertikaian tersebut bermula semenjak terbunuhnya khalifah Usman bin Affan, yang mengakibatkan kondisi kesatuan umat Islam menjadi kacau. Di kala itu, beberapa golongan yang merasa paling berhak menjadi penguasa yang menggantikan khalifah ketiga tersebut saling bertikai satu sama lain. Kondisi tersebut juga dimanfaatkan oleh para Yahudi yang berusaha menyusup untuk menperunyam keadaan. Puncak dari munculnya hadits palsu yaitu ketika terjadi konflik antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyyah bin Abi Sufyan. Salah satu pihak saling memperkuat diri dengan menciptakan hadits palsu yang isinya seakan-akan mendukung pihak tersebut dan menjatuhkan pihak yang lain.
Image result for hadits dhaif dan palsuPemicu munculnya hadits-hadits palsu tidak sebatas karena konflik politik saja, melainkan ada faktor-faktor lain. Namun para ulama’ ahli hadits tidak tinggal diam atas munculnya peristiwa ini. Beberapa upaya dilakukan untuk mencegah hadits-hadits tersebt menyebarluas dan mengembalikan ajaran agama Islam ke arah yang sesungguhnya tanpa adanya unsur-unsur dusta dan ambisi belaka.  
                      
A.    Pengertian Hadits Palsu
Hadits Palsu atau yang biasa dikenal dengan sebutan Hadits Maudhu’ memiliki beberapa pengertian. Secara etimologi, Hadits Maudhu’ memiliki arti : Menggugurkan, meninggalkan, mengada-ada atau membuat-buat. Secara terminologi, menurut ulama’ ahli hadits, hadits Maudhu’ berarti “sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW secara mengada-ada atau dusta, padahal beliau sama sekali tidak sabdakan, kerjakan, dan taqrir-kan.
Para pencipta hadits palsu menggunakan istilah-istilah atau ungkapan para ahli hikmah, agar memiliki makna yang berkesan indah. Selain itu jua menggunakan ungkapan para tabi’in, ulama’, kisah-kisah israilliyat atau mereka mengarang sendiri untuk mengungkapkan suatu permasalahan layaknya sebuah hadits sebenarnya. Betapa pun indahnya kata-kata yang dirangkai oleh pengarang hadits palsu, tetap aja hadits palsu merupakan hadits yang kualitasnya paling buruk.
Hadits palsu memang menimbulkan banyak dampak yang buruk bagi agama. Selain merusak ajaran-ajarn agama Islam, juga meracuni keyakinan dan pola pikir orang-orang yang mempercayainya. Maka dari itu maka ulama’-ulama’ hadits mengharamkan periwayatan hadits palsu atau Maudhu’ kecuali dalam rangka pembelajaran untuk dapat mengetahui contoh-contoh hadits maudhu’ tanpa ada tujuan untuk mempercayainya apalagi mengikutinya.

B.     Faktor Pemicu Timbunya Hadits Palsu
Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya hadits-hadits palsu / Maudhu’, antara lain :
·      Fanatisme terhadap salah satu golongan politik
Munculnya kaum-kaum fanatik pembela golongan-golongan politik merjadi awal mula penyebab munculnya hadits-hadits palsu. Perpecahan umat Islam menjadikan tumbuhnya golongan-golongan fanatik buta yang saking fanatiknya hingga berani membuat hadits-hadits palsu yang isinya mendukung tokoh-tokoh pada golongan tersebut dan menjatuhkan golongan-golongan yang lain. Ada beberapa contoh hadits palsu yang berisi sanjungan terhadap dua tokoh yang saling bertentangan yaitu :
“Ali sebaik-baik manusia, barang siapa meragukannya maka dia kafir”
“Sosok yang berkarakter jujur ada tiga : aku, Jibril, dan Muawiyyah”
Kaum Rafidhah Syi’ah yang merupakan pendukung sayyidina Ali merupakan golongan yang banyak memalsukan hadits. Al-Kholili dalam kitab Irsyad mengatakan bahwa kaum Rafidhi talah memalsukan lebih dari 13.000 hadits yang isinya sanjungan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib dan kecaman terhadap dua Khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiallaahu’anhuma.
Image result for hadits dhaif dan palsu            
·      Untuk merusak agama Islam
Dilakukan oleh kau zindik, yaitu kaum yang tidak memiliki agama/kepercayaan (atheis) yang berkedok Islam dan menyimpan kedengkian dan kebencian yang mendalam kepada umat Islam. Pada mulanya mereka ingin merusak ajaran agama Islam melalui Al-Qur’an, namun karena tidak ada yang dapat menandingi keotentikan isi dari Al-Qur’an, mereka gagal dan beralih ke pembuatan hadits palsu. Pada masa pemerntahan al-Mahdi al-Abbasi, terdapat seorang kafir zindik yang mengaku telah memalsukan lebih dari 14.000 hadits dan isinya sangat bertentangan dengan ajaran Islam karena telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.
Salah satu contoh hadits palsu yang mereka buat yaitu :
“Aku adalah nabi terakhir dan tidak ada nabi setelahku, kecuali jika Allah menghendaki.”
“Saya melihat Tuhanku di Arafah pada hari Arafah, Dia berada di atas onta dengan membawa dua sarung.”

·      Mencari muka kepada para pembesar
Cara ini dilakukan oleh para ahlu hikayah (tukang cerita) yang ingin mendapatkan kedudukan yang dekat dengan para penguasa dan pembesar ataupun untuk mendapatkan materi atau harta dengan menciptakan hadits palsu. Seperti contoh pada masa pemerintahan al-Mahdi al Abbasi pada dinasti Abbasiyah, ketika itu datang seorang ahlu hikayah bernama Ghiyats bin Ibrahim ketika al-Mahdi sedang bermain adu merpati. Kemudian al-Mahdi bertanya kepadanya, “coba jelaskan tentang hadits yang kau ketahui dari rasulullah”. Ghiyats kemudian menjawab, “Rasulullah SAW bersabda : Tidak boleh seseorang melakukan lomba dan aduan kecuali pada ketangkasan memanah, menunggang kuda, dan onta.”  hadits berhenti di sini, namun Ghiyats menambahkan, “atau yang bersayap”.
                        Mendengar pernyataan tersebut al-Mahdi memberi imbalan kepada Ghiyats. Setelah ia pergi al-Mahdi berkata, “ ketahuilah bahwa dia itu seorang pendusta.” Kemudian al-Mahdi memotong merpatinya dan tidak pernah bermain adu merpati lagi.

·      Bertujuan untuk targhib wa Tarhib
Berbeda dengan faktor-faktor lain sebelumnya, targhib wa tarhib bermula dari tujuan yang baik, namun tidak disertai dengan pemahaman yang baik pula. Mereka yang menciptakan hadits palsu ini merupakan sekelompok orang yang menisbatkan dirinya sebagai seorang sufi. Hadits palsu yang mereka buat bertujuan untuk mengajak orang berbuat kebaikan atau kembali ke jalan yang lurus. Memang apa yang mereka lakukan merupakan tindakan yang baik, namun tanpa disadari mereka telah melakukan dusta besar pula yang mengatasnamakan Rasulullah SAW. seperti contoh pada hadits berikut :
“barang siapa mengucapkan Laa Ilaha illallah maka Allah akan menciptakan baginya -pada setiap kalimat- seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas dan bulunya dari permata dan.... ”
Selain hadits di atas, termasuk pula hadits-hadits tentang fadhilah membaca surat-surat tertentu dalam Al-Qur’an. Hadits-hadits tersebut sebenarnya tujuannya baik, yaitu untuk memotivasi umat Islam untuk selalu berdzikir kepada Allah dan istiqomah dalam membaca Al-Qur’an. Namun bagaiman pun juga hadits palsu tetap saja palsu. Kita harus tetap berhati-hati agar tidak terjerumus untuk meyakininya. 

C.    Indikasi Hadits Palsu
Tanda-tanda kepalsuan sebuah hadits dapat dilihat dari 2 sisi, yaitu : Aspek Perowi dan Aspek Redaksi Hadits yang diriwayatkan.
·         Aspek Perowi
Image result for hadits dhaif dan palsuTanda-tanda hadits palsu jika dilihat dari aspek ini kebanyakan diketahui melalui pengakuan pemalsunya sendiri. Seperti pengakuan Abdul Karim bin Auja’ ketika hendak dipenggal kepalanya. Ada pula pengakuan dari ibn Abdu Robbi al-Farisi yang memalsukan hadits tentang fadhilah Al-Qur’an. Beliau mengatakan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan membaa Al-Qur’an dibuat agar orang–orang Islam mau kembali membaca dan mengkaji Al-Qur’an ditengah kesibukannya mengkaji ilmu fiqih Abi Hanifah.
Palsunya hadits juga dapat diindikasikan dari ungkapan para perowi yang secara tidak langsung mengungkapkan sebuah pengakuan. Misal seorang perowi hadits mengatakan telah mendengar hadits dari seseorang padahal keduanya tidak hidup pada zaman yang sama, dan itu telah membuktikan bahwa perowi tersebut dusta.
·         Aspek Redaksi
Perbedaan redaksi antara hadits nabi dengn hadits palsu (maudhu’) telah dipelajari para ulama’ hadits untuk menjaga kemurnian hadits agar tidak terkontaminasi dengan hadits-hadits palsu. Ada beberapa tanda kepalsuan sebuah hadits dilihat dari matannya, antara lain :
a.         Maknanya rancu, tidak masuk akal jika Rasulullah SAW yang mengatakan seperti itu. Seperti hadits palsu yang berbunyi “seandainya beras itu orang, niscaya dia sosok yang bijak, tidak dimakan oleh orang kecuali akan mengenyangkan.” Redaksi hadits tersebut dianggap tidak mencerminkan kedalaman makna yang biasa diungkapkan pada hadits nabawi.
b.        Bertentangan dengan nash Al-Qur’an atau hadits shahih serta Ijma’. Seperti contoh hadits maudhu’ yang dibuat oleh penyembah berhala, “seandainya seseorang berbaik sangka terhadap batu niscaya batu itu akan memberikan manfaat baginya.” Pertentangannya dengan ajaran Islam, bahwa batu tidak akan bisa memberikan manfaat dengan sendirinya. Atau hadits maudhu’, “anak yang lahir dari hubungan zina tidak akan masuk surga tujuh keturunan.” Hadits ini bertentangan dengan ajaran Islam bahwa seseorang tidak akan mewarisi dosa dari orang lain.
c.         Bertentangan dengan akal sehat. Seperti hadits maudhu’, “pakailah cincin akik, karena bercincin akik dapat menghindarkan dar kefakiran.” Tentu hal tersebut tidak dapat diterima oleh akal, karena fakir tidaknya seseorang tidak ada hubungannya dengan menggunakan cincin akik.
d.        Bertentangan dengan ilmu kesehatan. Ada beberapa hadits maudhu’ yang menjelaskan tentang khasiat dari makanan tertentu. Seperti contoh, “terong obat segala penyakit”. Padahal hingga saat ini belum ada yang dapat membuktikan tentang pernyataan tersebut.
e.         Berisi tentang pahala yang besar atas perbuatan yang sederhana. Seperti contoh hadits maudhu’ tentang pahala puasa sunnah, “barang siapa berpuasa sunnah sehari maka ia akan diberi pahala seperti melakukan seribu kali haji, seribu umroh, dan mendapat pahala nabi Ayyub.” Meskipun puasa sunnah memang mendapatkan pahala, namun tidak seperti yang dikatan tersebut, apalagi hingga menandingi pahala seorang Nabi.
f.         Tentang sanksi yang berat atas kesalahan yang kecil. Seperti contoh hadits maudhu’, “barang siapa makan bawang pada malam jum’at maka ia akan dilempar ke neraka hingga kedalaman tujuh puluh tahun peralanan.”
g.        Berisi tentang permasalahan besar namun tidak diriwayatkan kecuali oleh seorang saja. Hadits madhu’ ini berupa dukungan kepada seorang tokoh pada golongan tertentu yang terjadi ketika pergolakan politik dalam kubu umat Islam. Seperti contoh, “Ali adalah orang yang ku wasiati (untuk memimpin).” Padahal tidak ada sahabat yang memilih pemimpinnya berdasarkan sebuah hadits yang menyebutkan nama seorang secara jelas. Mereka menentukan pemimpin berdasarkan sebuah musyawarah mufakat.

D.    Referensi Hadits-Hadits Palsu
Demi menjaga keaslian hadits-hadits Nabawi dari campuraduknya dengan hadits maudhu’, dilakukan beberapa upaya dari para ulama’ hadits. Salah satunya yaitu menghimpun hadits-hadits Maudhu’ tersebut menjadi sebuah kitab. Adapun karya-karya ulama’ hadits yang berisi tentang hadits Maudhu’ antara lain :
·         Kitab Al-Maudhu’at, karya Imam al-Hafidz abi al-Farj Abdurrahman ibn al-Jauziy. Merupakan buku pertama dan terpopuler yang membahas tentang hadits palsu. Namun, karya ini juga menuai banyak kritik akibat banyak hadits yang belum terbukti kepalsuannya, juga karena beliau juga memasukkan hadits hasan bahkan hadits shahih ke dalam buku ini.
·         Kitab Al-La ali’ al-Mashnu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah, karya al-Hafidz Jalaluddin ash-Shuyuti. Merupakan revisi dari karya al-Jauziy sebelumnya.
·         Kitab Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Hadits al-Syani’ah al-Maudhu’ah, karya al-Hafidz abi al-Hasan Ali bin Muhammad bin Iraq al-Kanani. Kitab ini juga merupakan revisi dari kitab al-Jauziy. Dalam kitab ini, merevisi tiga hal dalam kitab sebelumnya, yaitu : hanya meletakkan hadits Maudhu’ yang disepakati oleh para ulama’ hadits kemaudhu’annya, meletakkan secara khusus hadits-hadits Maudhu’ yang belum disepakati kemaudhu’annya, serta menambahkan hadits-hadits Maudhu’ yang belum ada pada kitab sebelumnya. Selain itu, dalam kitab ini juga mencantumkan nama perowi yang menjadi pemalsu hadits.

E.     Usaha para Ulama dalam Memberantas Hadits Maudhu’
Keberadaan para ulama’ hadits sangat berperan penting dalam menjaga keotentikan sebuah hadits nabawi. Ada beberapa usaha yang beliau rangkai untuk menjaga kemurnian dan keaslian hadits-hadits nabi dari sentuhan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Di antara usaha-usahanya yaitu :
·         Mangharuskan perowi untuk mencantumkan sanad dalam periwayatan hadits. Hal semacam ini, memang belum dilakukan hingga terjadinya konflik politik dalam kubu umat Islam. Hal ini dilakukan agar periwayatan hadits lebih terjaga dan terkendali, hingga tidak semua orang dapat meriwayatkan hadits secara sembarangan.
·         Penglasifikasian hadits dalam sebuah buku tersendiri, agar tidak tercampur dengan hadits-hadits maudhu’.
·         Membuat kaidah-kaidah untuk mengetahui kepalsuan sebuah hadits. Kaidah-kaidah tersebut tersusun dalam sebuah disiplin ilmu al-Jarh wa Ta’dil.
·         Adanya klasifikasi hadits berdasarkan kualitas maupun kuantitas sanadnya, serta kriteria yang digunakan untuk menentukan hal tersebut. Juga dilakukannya kodifikasi hadits dengan harapan dapat menjaga kemurnian hadits di kala banyaknya penghafal hadits yang wafat.
·         Di samping itu, perlu juga upaya dari umat Islam secara keseluruhan. Paling tidak upaya yang dapat dilakukan yaitu menghindai penyebarluasan hadit-hadits palsu dan memeplajari secara mendalam tentang ilmu-ilmu hadits, agar tidak terjerumus untuk meyakini sebuah hadits maudhu’.


REFERENSI
            Smeer, Zeid B. 2008. ULUMUL HADIS Pengantar Studi Hadis Praktis. UIN-Malang Press: Malang.
            Pettalongi, M Noor Sulaiman. 2008. Antogi Ilmu Hadits. Gaung Persada Press: Jakarta.
            Zuhdi, Masjfuk. 1993. Pengantar Ilmu Hadits. PT Bina Ilmu: Surabaya.
            Koho, A Yazid Qasim. 1977. Himpunan Hadits-Hadits Lemah dan Palsu. PT Bina Ilmu: Surabaya.

       -http://arsitekhijrah.blogspot.my/2012/03/hadits-palsu-dan-sejarah-munculnya.html





Irwa Al-Ghalil - ebooks downloads

Taisir Mustolahul-Hadis- ebooks downloads


Isnin, 12 Mac 2018

Gerakan liberalisme dalam Islam

Image result for islam liberalUmat Islam yang progresif telah menghasilkan banyak aliran pemikiran yang liberal mengenai Islam. Aliran pemikiran ini adalah hasil cetusan perkembangan globalisasi semasa, berhadapan dengan dakyah dan tohmahan pihak Barat terhadap Islam. Sebelum ini Islam Fundamental diterima umum sebagai Islam yang sesuai dengan situasi dunia hari ini. Ia agak bertentangan dengan Islam Tradisional. Semua aliran ini adalah hasil analisis pemikir semata-mata untuk melabel hala tuju kecenderungan gerakan selain perkembangan Islam semasa yang dilabel pengganas, rasis, dan anti-semitik.

Fenomena pemikiran Islam yang liberal sebenarnya tidak begitu jelas sebagai satu aliran pemikiran yang sekata. Muslim yang memanggil diri mereka sebagai progresif boleh dikatakan mengamalkan Islam yang liberal kerana mereka telah mencetuskan beberapa pemikiran liberal dalam Islam. Akan tetapi sesetengah ahli akademik berpendapat Islam progresif dan Islam liberal adalah dua aliran yang berbeza. Aliran-aliran ini berkongsi satu falsafah yang bergantung kepada ijtihad. Muslim yang berfikiran liberal tidak semestinya berpegang kepada interpretasi ulama traditisional tentang Quran dan Hadith. Mereka ini secara umumnya mendakwa mahu kembali kepada prinsip asal Ummah terdahulu dan kepada maksud asal etika dan pendekatan majmuk (pluralistik) kitab suci.
 
Fenomena ini adalah salah satu dari gerakan-gerakan pembaharuan dalam Islam bukannya satu usaha perpecahan agama. Mereka mendakwa percaya kepada rukun asas dalam Islam seperti Rukun Iman dan Rukun Islam. Mereka percaya pandangan mereka selari dengan ajaran Islam. Perbezaan utama mereka dengan aliran konservatif Islam adalah interpretasi aplikasi nilai-nilai teras Islam dalam kehidupan moden.

Fokus mereka kepada interpretasi individu dan etika, berbanding dengan maksud literal kitab suci, dan fahaman ini mungkin berasal dari tradisi Sufi dan tasawwuf Islam.

Image result for islam liberalBeberapa ciri umum fahaman ini adalah:

Autonomi individu untuk mentafsir Quran dan Hadith
Pandangan yang lebih kritikal dan pelbagai terhadap teks agama serta pandangan tradisi dalam Islam
Kesamarataan jantina dalam semua aspek ritual agama
Pandangan yang lebih terbuka dalam budaya moden termasuk dalam bidang adat, pakaian dan praktis
Galakan menggunakan ijtihad dan fitrah


Ijtihad (pentafsiran semula)
Muslim liberal selalu menggugurkan tafsiran Quran yang mereka rasa terlalu konservatif kepada tafsiran yang lebih sedang disuaikan dengan kehidupan moden. Mereka menganggap tafsiran hendaklah mengambil kira keadaan pada kurun ketujuh dalam konteks budaya Arab pada masa itu.
Penggunaan Hadith dipersoalkan kerana undang-undang Islam banyak mengambil dari Hadith dan bukan dari teks al-Quran, akibatnya terdapat banyak lompang dalam isu-isu perundangan dan kekeluargaan.

Muslim liberal percaya Islam menggalakkan konsep kesamarataan dalam segenap aspek.

Muslim liberal bersifat kritikal mengenai kedudukan wanita dalam tradisi masyarakat Islam terutama konsep poligami dan hak pewarisan harta pusaka di mana anak perempuan menerima kurang dari anak lelaki. Mereka juga kritikal dalam konsep wanita sebagai ketua negara dan wanita tidak seharusnya diasingkan dari lelaki dalam masjid. Sesetengah Muslim liberal bersetuju wanita menjadi imam dalam sembahyang dengan makmum lelaki dan perempuan.
Sesetengah Muslim feminis juga menolak kewajipan hijab, dengan mendakwa pakaian yang sopan adalah cukup untuk lelaki dan perempuan. Bagaimana pun sesetengah Muslim feminis memakai hijab sebagai simbol menentang perlakuan wanita sebagai objek seks.

Sesetengah Muslim liberal lebih suka kepada idea demokrasi sekular moden dan pemisahan antara negara dan agama sekaligus bertentangan dengan idea Islam dan politik tidak boleh dipisahkan.
Penggunaan hukum Syariah dipertikaikan. Hujah mereka banyak menggunakan varian dari teori Muktazilah bahawa Quran itu dicipta Tuhan untuk masyarakat pada masa-masa tertentu, dan akal mestilah digunakan untuk penyelesaian masalah dalam konteks terkini.

Mereka lebih terbuka kepada dialog antara agama untuk menyelesaikan konflik dengan Yahudi, Kristian, Hindu dan mazhab-mazhab lain dalam Islam.
Gagasan jihad lebih difahami sebagai perjuangan dalam diri sendiri berbanding perjuangan bersenjata

Mereka ini selalunya skeptikal terhadap kesahihan ilmu-ilmu yang berbaur Islam seperti ekonomi Islam, sains Islam, sejarah Islam dan falsafah Islam sebagai satu cabang ilmu berasingan dari bidang ilmu perdana. Mereka menganggap penyebaran cabang-cabang ilmu ini sebagai propaganda Muslim konservatif. Mereka lebih suka merujuk kepada hasil kerja sarjana dari Barat.

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Agama Islam Malaysia ke-74 pada 25-27 Julai 2006 memutuskan pemikiran Islam Liberal adalah sesat dan menyeleweng daripada syariat Islam. Hujah yang digunakan adalah seperti Islam cuma satu, iaitu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW menerusi al-Quran dan Sunnah.

Kerajaan Malaysia sebagai pemerintah Islam yang diamanahkan untuk menjalankan amar makruf dan nahi mungkar telah bertindak bijak dalam soal ini. Tindakan berasaskan siyasah syar’iyyah iaitu demi menjamin kesucian agama di samping membangunkan urusan dunia (hirasat al-din wa ‘imarat al-dunya). Melalui konsep tersebut maka pengharaman pemikiran-pemikiran tertentu adalah salah satu cara yang digunakan oleh pemerintah demi menyekat jalan-jalan (sadd al-zari’ah) yang boleh merosakkan aqidah dan pemikiran umat Islam.

Pemikiran adalah hak asasi setiap individu yang berakal. Dengan pemikiran juga lahirnya segala tingkah laku dan amal perbuatan. Hadith Rasulullah s.a.w. mengatakan: “Sesungguhnya setiap amalan itu dengan niat”.

Walau bagaimanapun terdapat pendapat yang mengatakan usaha menyekat pemikiran liberal dilakukan kerana tidak mahu orang Islam bersikap terbuka. Seperti kata Setiausaha Majlis Uskup-Uskup Katolik Malaysia, Brother Augustine Julian
         
Malangnya, mereka tidak mahu orang Islam bersikap terlalu terbuka dalam membincangkan isu Islam. Mungkin mereka beranggapan jika seseorang itu terlalu terbuka, maka mereka boleh mempersoalkan kelemahan yang wujud dalam Islam.




Selasa, 6 Mac 2018

Uthman bin Affan

Image result for para sahabat nabi

Uthman bin Affan (Arab: عثمان بن عفان) merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau menjadi khalifah, berlaku pertelingkahan dalam kalangan umat Islam mengenai cara bacaan al-Quran. Disebabkan oleh itu Uthman bin Affan telah meminjam suhuf, (kumpulan penulisan al-Quran daripada Hafsa. Selepas itu Uthman bin Affan telah memerintahkan empat orang sahabat untuk menyalin semula al-Quran dalam bentuk yang sempurna yang dikenali sebagai Mushaf Uthman. Salinan Mushaf Uthman tersebut dihantar ke seluruh pusat jajahan bagi menggantikan salinan-salinan yang lain.

Saidina Uthman dilahirkan di dalam sebuah keluarga Quraisy yang kaya di Makkah beberapa tahun selepas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beliau ialah salah seorang daripada orang yang pertama sekali memeluk Islam dan amat dikenali kerana sifat dermawannya kepada orang yang susah. Beliau juga berhijrah ke Habsyah dan kemudian penghijrahan dari Makkah ke Madinah.

Image result for utsman bin affan
Saidina Uthman menjadi khalifah selepas Saidina Umar Al-Khattab dibunuh pada tahun 644. Beliau memerintah selama dua belas tahun iaitu dari tahun 644 sehingga tahun 656. Semasa pemerintahannya, keseluruhan Iran, sebahagian daripada Afrika Utara, dan Cyprus menjadi sebahagian daripada empayar Islam. Adalah dikatakan bahawa Saidina Uthman melantik saudaranya sebagai pentadbir jajahan baru Islam. Enam tahun pertama pemerintahannya aman manakala enam tahun terakhir pula keadaan huru-hara. Beliau berjaya menyatukan mushaf al-Quran yang berbeza-beza kepada satu mushaf mengikut susunan mushaf yang dikumpulkan oleh Abu Bakar. Hingga hari ini, kita gunakan Mushaf Uthmani. seorang sahabat nabi dermawan. Semasa di Madinah membeli telaga air dari Yahudi dan mewaqafkan ianya untuk keperluan masyarakat islam.


Menurut pandangan ahli Sunah Waljamaah, beliau mengahwini dua orang puteri Rasulullah SAW dalam masa yang berbeza (beliau digelar zunurain). Saidina Uthman R.Anhu salah seorang dijanjikan syurga. Saidina Uthman mengahwini puteri Rasulullah SAW bernama Ruqayyah, setelah Ruqayyah meninggal dunia, beliau mengahwini Ummu Kalthum. Selepas Ummu Kalthum meninggal dunia, beliau telah berkahwin sebanyak 7 kali dan isteri terakhirnya bernama Nailah Binti Furaifisha.image sourceMELURUSKAN SEJARAH TRAGEDI TERBUNUHNYA UTSMAN BIN AFFAN - Ebook
UTSMAN BIN AFFAN













Isnin, 5 Mac 2018

Ali bin Abi Talib


Image result for para sahabat nabiSayyidina Ali bin Abi Talib (Bahasa Arab: علي بن أبي طالب‎; 13 Rejab, 22 atau 16 SH – 21 Ramadan, 40 H; 20 September 601 atau 17 Julai 607 – 31 Januari 661 Masihi) ialah sepupu dan menantu Nabi Muhammad s.a.w. selepas mengahwini puteri Rasulullah s.a.w. iaitu FatimahAz-Zahra. Beliau merupakan Khulafa al-Rasyidin yang keempat, memerintah dari tahun 656 hingga 661 Masihi. Penganut Syiah mengganggap beliau sebagai Imam pertama dan waris sah selepas Rasulullah SAW.
Sayyidina Ali dilahirkan di Makkah pada tahun 601. Bapa Sayyidina Ali, Abu Talib ialah pembesar puak Quraisy dan juga bapa saudara kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Semasa Nabi Muhammad s.a.w. menerima wahyu daripada Allah s.w.t., Sayyidina Ali merupakan kanak-kanak yang pertama memeluk Islam.

Sayyidina Ali sentiasa menyokong Nabi Muhammad s.a.w. semasa kezaliman terhadap orang Muslim berlaku. Pada tahun 622 Masihi, semasa peristiwa hijrah berlaku, Saidina Ali mengambil risiko dengan tidur di katil Rasulullah s.a.w. lantas berjaya mengelakkan satu percubaan membunuh baginda. Ali sendiri berhijrah beberapa tahun selepas itu
Semasa berlakunya Perang Badar, Sayyidina Ali menumpaskan seorang jaguh Quraisy iaitu Al Walid bin Utbah di samping askar-askar Makkah yang lain. disamping itu para sahabat Rasulullah s.a.w juga memainkan peranan yang penting di sisi Nabi sebagai pejuang agama Allah.
Beliau mengahwini Fatimah az-Zahra, anak kepada Rasulullah s.a.w. Ketika itu beliau berumur 25 tahun dan Siti Fatimah berumur 18 tahun. Kerana kemiskinannya Saidina Ali menjual baju besi perangnya untuk dijadikan mahar. walaupun begitu para sahabat lain seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Uthman dan Sayyidina Abdul Rahman bin Auf berbesar hati mengeluarkan perbelanjaan majlis perkahwinan kedua pengantin itu demi memuliakan Rasulullah SAW, kekasih yang amat mereka cintai.
Sepanjang sepuluh tahun Nabi Muhammad s.a.w. mengetuai penduduk Madinah, Saidina Ali senantiasa menolong dan membantu baginda demi kemajuan umat Islam. Beliau menyertai semua peperangan bersama Rasullullah s.a.w kecuali Perang Tabuk. Beliau juga menjadi salah seorang hakim dan penulis wahyu baginda.

Selepas wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. pada tahun 632 masihi, Saidina Abu Bakar dilantik menjadi khalifah pertama umat Islam. Adalah dikatakan bahawa Saidina Ali terus menerima Saidina Abu Bakar sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW sekali gus menafikan fitnah yang dilontarkan oleh kaum Syiah. Ahli Sunah Waljamaah percaya perlantikan Saidina Abu Bakar merupakan sesuatu yang tepat sekali mengikut syariat Allah dan Rasulullah. Malah Saiyidina Ali menjadi salah seorang tentera Islam di bawah pemerintahan Saiyidina Abu Bakar untuk memerangi kaum yang murtad dan tidak mahu membayar zakat. Golongan Syiah pula percaya memandangkan Saidina Ali merupakan menantu dan sepupu kepada Rasulullah s.a.w. maka beliaulah yang seharusnya dilantik menjadi khalifah.
Pada tahun 656 masihi, khalifah ketiga Islam iaitu Saidina Uthman bin Affan wafat kerana dibunuh oleh puak pemberontak di dalam rumahnya sendiri. Pemberontakan mereka atas sebab tidak puas hati dengan Saidina Uthman yang dikatakan mengamalkan nepotisme dan menggunakan harta baitul mal untuk keluarganya. Atas keputusan ahli Syura mencadangkan Saidina Ali supaya menjadi khalifah tetapi Saidina Ali menolak. Tetapi selepas didesak, beliau akhirnya menerima untuk menjadi khalifah.Perkara pertama beliau lakukan selepas dilantik menjadi khalifah ialah mencari pembunuh saidina Uthman mengikut saluran undang-undang Islam. dengan menghapuskan pemberontakan yang hendak dibuat oleh golongan Rafidhah yang menghasut para sahabat. Isteri Rasulullah iaitu Ummul Mukminin Saidatina Aisyah, dan dua orang sahabat Nabi iaitu Talhah ibn Ubaidillah dan Zubair ibn Awwam telah terlibat sama. Pemberontakan itu berjaya ditumpaskan oleh Saidina Ali dalam Perang Jamal (juga dikenali sebagai Perang Unta). Dalam peperangan ini, Talhah dan Zubair terkorban akibat dibunuh oleh golongan Rafidhah yang mengaku sebagai pengikut Saidina Ali. Manakala Saidatina Aisyah dikembalikan ke Madinah oleh Saidina Ali. Beliau menjalankan satu misi dengan mengarahkan 100 orang wanita menyamar lelaki dan menutup muka, lalu menarik unta Ummul Mukminin Aisyah kembali ke Madinah.

Namun ada juga yang mengatakan: Keluarnya Aisyah bersama Thalhah dan Az Zubair bin Al Awwam ke Bashrah dalam rangka mempersatukan kekuatan mereka bersama Ali bin Abi Thalib untuk menegakkan hukum qishash terhadap para pembunuh Utsman bin Affan. Hanya saja Ali bin Abi Thalib meminta penundaan untuk menunaikan permintaan qishash tersebut. Ini semua mereka lakukan berdasarkan ijtihad walaupun Ali bin Abi Thalib lebih mendekati kebenaran daripada mereka. (Daf'ul Kadzib 216-217)
Selepas itu, Saidina Ali melantik gabenor-gabenor baru bagi menggantikan pentadbir-pentadbir yang dilantik oleh Saidina Uthman. Saidina Ali memindahkan pusat pentadbiran Islam daripada Madinah ke Kufah, Iraq. Kota Damsyik, Syria pula ditadbir oleh Muawiyah, Gabebor Syria dan saudara Saidina Uthman. Muawiyah telah dilantik sebagai Gabenor pada masa pemerintahan Saidina Umar lagi.

Muawiyah, yang menyimpan cita-cita politik yang besar, berpendapat bahawa siasatan berkenaan dengan pembunuhan Saidina Uthman adalah merupakan keutamaan bagi negara ketika itu dan beliau ingin mengetahui siapakah pembunuh Saidina Uthman dan pembunuh tersebut mestilah dihukum qisas. Bagi Saidina Ali, beliau berpendapat keadaan dalam negara hendaklah diamankan terlebih dahulu dengan seluruh penduduk berbaiah kepadanya sebelum beliau menyiasat kes pembunuhan Saidina Uthman. Muawiyah kemudiannnya menyatakan rasa kesal dengan kelambatan Saidina Ali menyiasat kematian Saidina Uthman, lalu melancarkan serangan ke atas Saidina Ali. Akhirnya terjadilah Perang Siffin di antara Muawiyah dan Saidina Ali. Di dalam peperangan ini antara para sahabat yang terlibat adalah Amru Al-Ash, Ammar ibn Yasir, Abdullah ibn Amru Al Ash, Abdullah ibn Abbas.

Ada di antara para sahabat bersikap berkecuali di dalam hal ini. Antaranya adalah Abdullah ibn Umar, Muhammad ibn Maslamah, Sa'ad ibn Abi Waqqas, Usamah ibn Zaid.

Image result for Ali bin Abi Talib

Ali bin Abi Talib r.a - Ebook

Ali bin Abi Talib

Sabtu, 13 Januari 2018

Saidina Umar al-Khattab

Saidina Umar al-Khattab (Arab, عمر بن الخطاب)
Image result for para sahabat nabi(c. 581 - November, 644), kadang-kadang dipanggil juga sebagai Umar al-Farooq ataupun Omar atau Umar ialah daripada Bani Adi iaitu salah satu golongan Bani Adi Quraisy. Beliau menjadi khalifah kedua Islam pada 23 Ogos (633-644 Masihi) bersamaan 22 Jamadilakhir tahun 13 Hijrah dan merupakan salah seorang Khulafa al-Rasyidin.

Kehidupan awal
Saidina Umar dilahirkan di Makkah. Bapanya bernama Khattab bin Naufal bin Abdul Uzza. Beliau dikatakan terdiri daripada golongan kelas pertengahan. Sewaktu kecilnya beliau pernah mengembala kambing dan pada zaman dewasanya beliau berniaga dengan berulang-alik ke Syam membawa barang dagangan. Beliau juga berilmu, perkara yang amat jarang berlaku pada masa tersebut, dan juga merupakan seorang pejuang dan wira yang gagah dan terkenal kerana kegagahannya.

Ringkasan
Saidina Umar bin al-Khattab telah mendapat hidayat Islam pada tahun ke-6 kenabian ketika berumur 39 tahun. Beliau memeluk Islam setelah mendengar adik perempuannya membaca ayat-ayat al-Quran . Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tabrani bahawa Rasulullah s.a.w juga pernah berdoa: Ya Allah , kuatkanlah Islam dengan Umar. Sebuah hadis daripada Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahawa Rasulullah s.a.w bersabda : Apabila Umar memeluk Islam, Jibrail pun datang dan berkata : Ya Muhammad , sesungguhnya seluruh makhluk langit bergembira dengan Islamnya Umar

Memeluk Islam
Semasa Nabi Muhammad s.a.w. mula menyebarkan Islam secara terang-terangan, Saidina Umar mempertahankan ajaran tradisi masyarakat Quraisy. Saidina Umar ialah antara orang yang paling kuat menentang Islam pada masa itu.

Related imageMenurut ahli sejarah Islam, semasa Saidina Umar dalam perjalanan untuk membunuh Rasulullah s.a.w., beliau bertembung dengan rakannya Nu'aim bin 'Abdullah yang mengatakan bahawa beliau haruslah membetulkan adik perempuannya dahulu memandangkan adiknya telah memeluk Islam.

Saidina Umar pergi ke rumah adiknya serta suaminya dan mendapati mereka berdua dan Khabbab bin 'Aratt sedang membaca al-Quran daripada Surah Taha. Dalam keadaan yang marah dan kecewa beliau memukul adiknya. Apabila melihat adiknya berdarah, beliau meminta maaf dan sebagai balasan beliau akan membaca secebis ayat Al Quran kepada adiknya. Beliau berasa terharu apabila mendengar ayat-ayat al-Quran yang begitu indah sehinggakan beliau memeluk Islam pada hari itu juga.[3]

Selepas peristiwa terbabit, beliau berjanji akan melindungi Islam sehingga ke titisan darah terakhir. Peristiwa ini terjadi pada bulan Zulhijjah tahun keenam kenabian.[4]

Saidina Umar di Madinah
Saidina umar merupakan antara individu yang berhijrah ke Yathrib (kemudiannya dikenali sebagai Madinah). Dia merupakan salah seorang daripada Sahabat Rasulullah s.a.w..

Pada tahun 625 M, anak perempuan Saidina Umar iaitu Hafsa mengahwini Nabi Muhammad s.a.w.

Kewafatan Nabi Muhammad s.a.w.
Nabi Muhammad s.a.w. wafat pada tahun 632 Masihi. Saidina Umar dikatakan amat sedih dengan kewafatan Rasulullah s.a.w. sehinggakan beliau sanggup membunuh sesiapa sahaja yang mengatakan bahawa Rasulullah s.a.w. telah wafat. Beliau kemudiannya kembali tenang selepas Saidina Abu Bakar (khalifah pertama umat Islam) berucap "Sesiapa yang menyembah Muhammad ketahuilah bahawa baginda telah wafat, tetapi sesiapa yang menyembah Allah s.w.t., ketahuilah bahawa Allah itu hidup dan tidak akan mati." Saidina Abu Bakar kemudiannya membaca beberapa potong ayat Al Quran untuk mententeramkan umat Islam.


Saidina Abu Bakar dengan sokongan Saidina Umar menjadi khalifah pertama umat Islam. Semasa pemerintahan singkat Saidina Abu Bakar, Saidina Umar merupakan penasihat Saidina Abu Bakar. Saidina Abu Bakar mencalonkan Saidina Umar sebagai penggantinya sebelum kematiannya pada tahun 634 M. Dengan itu Saidina Umar menjadi khalifah kedua umat Islam.


Pemerintahan Saidina Umar
Semasa pemerintahan Saidina Umar, empayar Islam berkembang dengan pesat; orang Islam menawan Mesopotamia dan sebahagian kawasan Parsi daripada Empayar Parsi (berjaya menamatkan Empayar Parsi), dan menawan Mesir, Palestin, Syria, Afrika Utara, dan Armenia daripada Byzantine (Rom Timur). Ada di antara pertempuran ini menunjukkan ketangkasan tentera Islam seperti Perang Yarmuk yang menyaksikan tentera Islam yang berjumlah 40,000 orang menumpaskan tentera Byzantine yang berjumlah 120,000 orang. Hal ini mengakhiri pemerintahan Byzantine di selatan Asia Kecil.

Image result for umar al-khattabPada tahun 637 Masihi, selepas pengepungan Baitulmuqaddis yang agak lama, tentera Islam berjaya menakluk kota tersebut. Paderi besar Baitulmuqaddis iaitu Patriarch Sophronius menyerahkan kunci kota itu kepada Saidina Umar. Beliau kemudiannya mengajak Saidina Umar supaya bersembahyang di dalam gereja besar Kristian iaitu gereja Church of the Holy Sepulchre. Saidina Umar menolak dan sebaliknya menunaikan solat tidak berapa jauh daripada gereja tersebut kerana tidak ingin mencemarkan status gereja tersebut sebagai pusat keagamaan Kristian. 50 tahun kemudian, sebuah masjid yang digelar Masjid Umar dibina di tempat Saidina Umar menunaikan solat.

Saidina Umar banyak melakukan reformasi terhadap sistem pemerintahan Islam seperti menubuhkan pentadbiran baru di kawasan yang baru ditakluk dan melantik panglima-panglima perang yang berkebolehan. Semasa pemerintahannya juga kota Basra♙ dan Kufah dibina.

Saidina Umar juga amat dikenali kerana kehidupannya yang sederhana.

Pembaharuan Dalam Bidang Pentadbiran.
Membentuk Majlis Syura.
Khalifah Umar telah membentuk satu Majlis Syura yang merupakan lembaga atau majlis perunding yang tertinggi. Ianya terbahagi kepada dua iaitu Majlis Syura Tertinggi dan majlis Syura Am.

Anggota Majlis Syura Tertinggi ialah terdiri daripada Uthman bin Affan, Ali bin Abi Talib, Zaid bin Tsabit, Abdul Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqas dan Mu'az bin Jabal. Semua pekara yang melibatkan masalah politik, keselamatan dan sosial negara akan dibincangkan bersama-sama dalam majlis tersebut. Majlis Syura ini juga bertanggungjawab menentukan polisi negara dalam soal pemerintahan dalaman dan hubungan luar.

Melalui amalan sistem syura, Khalifah Umar dapat mengetahui apa-apa permasalahan yang berlaku dalam semua segi. Beliau juga membuka peluang dan kebebasan yang seluas-luasnya kepada semua orang untuk mengemukakan fikiran dan pendapat mereka demi kebaikan dan keadilan Islam, Sehingga beliau menggangap semua manusia yang tidak mahu memberikan pendapat adalah manusia yang tidak berfaedah.

Membahagikan Wilayah-Wilayah Islam.
Perkembangan Islam yang semakin luas dengan pembukaan negara-negara Islam yang baru telah memerlukan kepada pentadbir bagi menguruskan sesebuah negara. Dengan perluasan kuasa ini, Khalifah Umar telah membahagikan kerajaan Islam yang semakin luas kepada beberapa wilayah demi menjaga kelicinan pentadbiran Islam. Umar meletakkan beberapa orang pegawai untuk menjalankan pentadbiran. Mereka yang dilantik hendaklah datang ke Mekah pada tiap-tiap tahun selepas menunaikan haji untuk membuat laporan. Khalifah Umar dikatakan berkebolehan dalam memilih pegawai-pegawai yang cekap bagi melicinkan pentadbiran, sebagai contohnya Muawiyah bin Abu Sufyan, Amru bin al-Ass, Al Mughirah bin Syu’bah dan Zaid bin Sumyah.

Sebelum seorang Gabenor itu dilantik, mereka haruslah mengisytiharkan harta mereka bagi mengelakkan dari menerima rasuah. Inilah syarat yang dikenakan oleh Khalifah Umar Al-Khattab bagi menjamin keadilan dan kesucian Islam.

Memperbaharui undang-undang pentadbiran tanah.
Perluasan kuasa Islam menuntut kepada Khalifah Umar untuk melakukan pembaharuan terhadap sistem tanah. Di Mesir, Syam dan Iraq misalnya, segala tanah-tanah awam adalah menjadi milik kerajaan tempatan dan segala hasil dari tanah tersebut akan digunakan untuk membiayai kemudahan-kemudahan awam negara itu juga. Khalifah Umar juga menetapkan tanah-tanah yang dimiliki oleh penduduknya tidak akan dirampas tetapi ianya akan dikenakan cukai.

Tentera atau umat Islam dari negara lain tidak dibenarkan mengambil tanah dari negara jajahan kecuali melalui pembelian. Ini berbeza dengan amalan-amalan sebelumnya dimana tanah-tanah akan dibahagikan kepada tentera yang menyertai peperangan.

Pembaharuan dalam bidang ekonomi.
Banyak pembaharuan yang dilakukan oleh Umar bagi mengagihkan pendapatan kepada rakyat dan juga negara mengikut kehendak Islam. Kadar dan sistem cukai telah diubah. Cukai yang dikenakan mengikut jenis tanaman yang ditanam. Syarat-syarat yang menyusahkan rakyat dan tidak adil akan dihapuskan. Beliau juga sering bertanyakan kepada golongan-golongan Dzimmi (orang bukan Islam) untuk mengetahui samada cukai yang dikenakan membebankan mereka. Inilah langkah yang dilakukan oleh Umar sebelum pekara ini diperbaharui. Kesemua ini menyebabkan pungutan cukai menjadi cekap dan perbendaharan negara bertambah. Beliau juga turut memajukan sistem pertanian dengan membuka tanah-tanah baru dan juga mengadakan projek pengairan, yang mana ianya telah dilaksanakan di Mesir dan Iraq bagi menambahkan lagi hasil pertanian.

Pembaharuan Dalam Bidang Sosial.
Melakukan polisi baru untuk golongan Dzimmi.
Khalifah Umar telah mengadakan cukai tanah dan juga jizyah kepada golongan ini. Cukai ini adalah berpatutan kerana rendah kadarnya dan tidak menyusahkan mereka. Pernah suatu kali khalifah Umar memanggil 10 orang Dzimmi dari Kufah dan 10 orang Dzimmi dari Basrah supaya mereka bersumpah, bahawa cukai yang dikenakan ke atas mereka tidak membebankan.

Taraf dan hak awam diberikan sama rata seperti apa yang dinikmati oleh orang Islam. Golongan Dzimmi yang masih menentang Islam akan dibuang atau dihalau keluar negara. Harta mereka tidak akan dirampas, malah harta mereka yang tidak dapat dipindahkan seperti ladang akan dibayar ganti rugi oleh kerajaan Islam.

 
Memperbaharui taraf kedudukan hamba.
Golongan hamba pada masa itu telah diberikan hak kepentingan sosial dan taraf yang baik. Hamba tidak lagi dihina dan ditindas, mereka boleh hidup bebas seperti orang-orang biasa, kecuali bagi orang-orang yang benar-benar menentang Islam dalam peperangan. Umar menetapkan bahawa hamba perempuan yang menjadi ibu tidak boleh dijual sewenang-wenangnya seperti hamba-hamba lain. Begitu juga dengan hamba yang berkeluarga tidak boleh dipisahkan dari keluarga mereka.

Taraf golongan hamba juga disamakan dengan tuannya dalam apa-apa hal tertentu, pegawai-pegawai yang tidak menghormati dan menjaga hal kebajikan hamba akan dikenakan tindakan oleh Khalifah Umar. Sebagai contoh, Umar pernah melucutkan jawatan seorang pegawainya yang tidak menziarahi pekerjanya yang sakit.

Menggalakkan kegiatan keilmuan dan pelajaran.
Pelbagai langkah telah dilakukan oleh Khalifah Umar untuk mengembangkan pelajaran al-Qur'an. Beliau menyediakan guru-guru bagi mengajar pelbagai ilmu berhubung dengan keilmuan dan dihantar ke serata tempat bagi yang memerlukan serta diberi gaji yang lumayan. Sekolah-sekolah ditubuhkan di masjid-masjid bagi diajar pelajaran Islam di seluruh wilayah Islam. Umat Islam diwajibkan menghafal surah-surah tertentu didalam al-Quran bagi menghuraikan prinsip-prinsip utama ajaran Islam seperti surah al-Baqarah, an-Nisa, al-Maidah dan sebagainya. Golongan ini akan diberikan pelbagai ganjaran sebagai satu usaha untuk menggalakkan menghafal kandungan al-Quran.

Pembaharuan Dalam Bidang Ekonomi.
Memajukan sistem pertanian.
Khalifah Umar telah mewujudkan terusan bagi memajukan sistem pertanian yang mana terusan tersebut seperti Terusan Amirul Mukminin yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah sepanjang 69 batu dari bandar Fustat. Di Iraq pula beliau telah membina Empangan Abu Musa yang menyambungkan Sungai Dajlah (Tigris) dengan bandar Basrah.

Tanah juga telah dikaji selidik bagi menempatkan tanam-tanaman yang bermutu. Rakyat juga digalakan untuk membuka tanah-tanah baru bagi memperbanyakkan hasil pertanian. Tanah yang tidak dikerjakan akan ditarik balik sekiranya tidak terdapat hasil pertanian di dalamnya. Begitu juga beliau juga telah mengadakan sistem cukai bagi menambahkan pendapatan negara.

Kemarau dan kebuluran yang panjang
Pada tahun 638, Tanah Arab mengalami kemarau dan diikuti dengan kebuluran. Kebanyakan kaum Badwi mula mati akibat kelaparan dan wabak. Lama kelamaan, rizab makanan di Madinah pula semakin berkurangan, dan Umar mengutus surat kepada gabenor di Syria, Palestin, dan Iraq untuk menghulurkan bantuan. Keadaan darurat diumumkan di Madinah dan Semenanjung Tanah Arab. Gabenor yang pertama menyahut seruan itu ialah Abu Ubaidah al-Jarrah, gabenor Syria yang juga merupakan panglima tentera ketika itu. Beliau membalas dengan satu surat yang tertulis:

Saya menghantar buatmu kafilah yang satu hujungnya di Syria dan satu lagi di Madinah.
Kemudian, Abu Ubaidah sendiri turun melawat Madinah dan bertindak sebagai pegawai pengurusan bencana yang diketuai sendiri oleh Umar. Sebaik sahaja bekalan catuan mencukupi di Madinah, Umar mengerahkan orangnya untuk ke laluan Iraq, Palestin, dan Syria agar bekalan yang lain dihantar ke kawasan pedalaman Arab yang kemudiannya menyelamatkan jutaan nyawa daripada kebuluran. Bagi pelarian yang memohon perlindungan di Madinah pula, umar mengadakan makan malam setiap hari dan dianggarkan lebih dari seratus ribu rakyat yang hadir untuk menumpang makan.[5] Menjelang awal tahun 639, keadaan semakin pulih. Tanah Arab mula menerima hujan dan Umar sendiri menyelia perpindahan semula pelarian. Mereka diberikan catuan makanan yang mencukupi dan dikecualikan daripada zakat untuk tahun tersebut dan tahun seterusnya.

Wafatnya Saidina Umar

Makam khalifah Umar, di Masjid al-Nabawi, Madinah. Tingkap pertama dari kanan memberikan pandangan makam Umar.
Pada tahun 644, Umar dibunuh oleh seorang Parsi sebagai tindak balas dari Penaklukan Islam ke atas Parsi.Pembunuhan tersebut dirancang beberapa bulan sebelumnya. Pada Oktober 644, Umar menunaikan Haji di Makkah, waktu pembunuh tersebut menyatakan kematian Umar pada tahun tersebut, dan menggunakan jemaah yang ramai sebagai penghadang kepada para konspirasi ini untuk bersebunyi. Diriwayatkan apabila Umar berdiri di Bukit Arafah, beliau mendengar suara berkata:

"Wahai Khalifah, tidak akan lagi kamu berdiri di atas Bukit Arafah".
Sahabat Umar, Jubayr bin Mut'im dilaporkan berkata:

Kami lihat seorang lelaki berdiri di atas bukit dan berkata 'Sesungguhnya ini adalah Haji terakhir buat Umar. Dia tidak akan datang ke sini lagi.'
Ketika salah satu ibadah Haji, iaitu melontar Jamrah, seseorang membaling batu kepada Umar sehingga melukakan kepala beliau, dan satu suara didengari mengatakan yang Umar tidak akan menunaikan Haji lagi.

Seorang hamba berbangsa Parsi, Piruz Nahavandi (juga dikenali sebagai Abu Lu'lu'ah), membawa rungutan kepada Umar tentang cukai tinggi yang dikenakannya oleh tuannya Mughirah. Umar menulis kepada Mughirah dan bertanya tentang cukai tersebut; jawapan Mughirah memuaskan hati, tetapi Umar menegaskan bahawa cukai yang dikenakan daripada Abu Lu'lu'ah adalah berpatutan, disebabkan pendapatan hariannya. Umar kemudian dilaporkan meminta kepada Abu Lu'lu'ah: "Saya mendegar yang kamu membuat kincir angin; buatkan untuk saya satu." Dalam keadaan merengus, Piruz menjawab, "Sesungguhnya aku akan buatkan kincir untuk kamu, biar satu dunia ingat akannya".

Piruzlah yang ditugaskan dengan misi membunuh Umar. Menurut rancangan, sebelum solat Subuh berlangsung, Piruz akan memasuki Masjid al-Nabawi, masjid utama di Madinah yang solat tersebut akan diketuai atau diimam oleh Umar dan dia akan menyerang Umar semasa sedang bersolat, kemudian lari atau bersembunyi di kalangan jemaah masjid.

Pada 31 Oktober 644, Piruz menyerang Umar ketika beliau sedang mengimamkan sembahyang Subuh, menikamnya sebanyak enam kali di perut dan akhir sekali di pusat, yang menyebabkan maut. Umar dibiarkan berdarah ketika Piruz cuba melarikan diri, tetapi orang disekeliling dengan segera menangkapnya; dalam usahanya untuk melarikan diri, dikhabarkan dia mencederakan dua belas orang lain, enam atau sembilan orang daripadanya meninggal dunia, sebelum dia mengelar dirinya sendiri untuk membunuh diri.

Umar wafat pada tiga hari kemudian pada hari Rabu, 3 November 644 (26 ZūlḤijjah 23H) disebabkan luka yang sangat teruk. Umar dilaporkan meninggalkan pesanan berikut:

Berbuat baik dan bermurah hatilah kepada Muhajirin dan Ansar. Siapa antara mereka yang berbuat baik, berbuat baik jugalah kepada mereka; siapa antara mereka yang berbuat silap, abaikan kesilapan mereka. Berbuat baiklah juga kepada rakyat di kawasan yang ditakluk. Mereka berada di barisan paling hujung dalam pertahanan kita; merekalah sasaran kemarahan dan tekanan musuh kita. Mereka menyumbang kepada pendapatan kita. Mereka hanya perlu dicukai jika terdapat lebihan harta. Berilah belas ihsan kepada kaum Badwi kerana merekalah tulang belakang negara Arab. Saya mengarahkan kamu untuk berbuat baik kepada kaum Dzimmi kerana mereka adalah tanggungjawab kamu. Jangan kenakan cukai kepada mereka melebihi dari kemampuan mereka. Pastikan yang mereka membayar Jizyah tanpa sebarang kesukaran. Takutlah kepada Allah, dan apa yang kamu lakukan pastikan dalam keredhaan-Nya. Dalam urusan dengan manusia, takutilah Allah, dan dalam urusan dengan Allah janganlah takut dengan manusia. Berkenaan soal rakyat, saya menggesa kamu untuk memastikan keadilan terjaga. Pastikan hak semua orang dipenuhi. Beri perhatian kepada kebajikan mereka. Peliharalah keselamatan diri dan harta mereka. Pastikan perbatasan negara tidak dilanggar. Ambil langkah yang kuat untuk menjaga sempadan. Berkenaan soal pentadbiran, janganlah melebihkan yang kaya dari yang miskin. Berkeraslah pada siapa yang melanggar hukum. Jangan tunjukkan belas kasihan. Jangan berehat sehingga kamu membawa penjahat ke pengadilan. Layani semua orang sama rata. Jadilah tunggak kekuatan bagi mereka yang lemah dan ditindas. Mereka yang kuat tetapi berbuat salah, pastikan mereka mendapat balasan atas kesalahan yang dilakukannya. Bagi urusan harta rampasan dan lain lagi, hindarilah berat sebelah kepada keluarga sendiri. Jangan jadikan sentimen perhubungan atau kepentingan diri mempengaruhi kamu. Syaitan itu berleluasa; dia akan menggoda kamu. Atasi semua godaan dan lakukan tugas kamu menurut apa yang diperintahkan Islam. Cari panduan daripada Quran dan Sunnah. Mintalah nasihat dari mereka yang bijak di kalangan kamu. Gunakan akal dalam mengendalikan hal yang sukar, dan pohonlah bantuan daripada Tuhan. Bersederhanalah dalam cara hidup dan tabiat kamu. Jangan ada riak dan kesombongan pada diri kamu. Terajuilah hidup sebagai orang Islam yang dicontohi. Memandangkan kamu pemimpin orang Islam, wajari kepimpinan kamu dengan menjadi yang terbaik dari kalangan semua. Semoga Allah merahmati kamu.
Atas permintaan Umar, beliau dimakam di Masjid al-Nabawi bersama Nabi Muhammad S.A.W dan khalifah Abu Bakar atas keizinan Aisyah.

Saidina Uthman bin Affan dilantik menjadi khalifah oleh suatu majlis syura selepas kewafatan Umar.

Rupa fizikal
Umar mempunyai badan yang kuat, tegap dan bagus dalam bergusti. Beliau dikatakan pernah menyertai pertandingan gusti ketika berlangsungnya pasar tahunan di Ukaz. Dari sumber perdana menyatakan yang Umar mempunyai penampilan yang bertenaga, badan yang sangat tinggi dan tegap, di pasar beliau menonol dari kalangan orang ramai seperti menara. Bahagian depan kepala beliau botak, sentiasa A'sara Yusran (bekerja dengan dua tangannya), kedua-dua mata beliau hitam, dengan kulit kekuningan, walau bagaimanapun, ibn Sa'ad di dalam bukunya menyatakan yang beliau tidak tahu yang Umar mempunyai kulit kuning kecuali jika seseorang mengambil keadaan ketika zaman beliau hanya memakan minyak (akibat kemarau panjang). Ada juga sumber menyatakan beliau mempunyai kulit putih kemerahan. Gigi beliau adalah ashnabul asnan (sangat putih berkilat). Belau sentiasa mewarnakan jambangnya dan menjaga rambutnya degan sejenis tumbuhan.

Sejarahwan Islam Ibn Saad dan Al-Hakim mencatatkan perihal Umar yang menyatakan bahawa Abu Miriam Zir, asal dari Kufah menerangkan tentang Umar sebagai:

Aku bersama orang Madinah pada suatu hari raya, dan aku lihat Umar berjalan berkaki ayam. Beliau kelihatan mendahului usianya, botak, warna kuning keperangan - orang bertangan kidal, tinggi dan menonjol ketinggiannya dari yang lain.
Anak sulung Umar, Abdullah, menerangkan tentang penampilan fizikal bapanya seperti berikut:

Beliau seorang lelaki yang berkulit cerah, ternampak seri kemerah-merahan, tinggi, botak dan beruban.
Sejarahwan Salima bin al-Akwa'a pula berkata tentang beliau:

Umar sangat bijak, beliau mampu menggunakan kedua-dua tangannya dengan baik.
Ibn Asakir mencatatkan dari sanad Abu Raja al-U'taridi yang:

Umar seorang lelaki yang tinggi, gempal, sangat botak, sangat kemerah-merahan dengan sedikit rambut di pipi, misainya besar dan hujungnya kemerahan.








Umar bin Khattab r.a - Ebook
http://gdurl.com/VQjL/download