Khamis, 28 Disember 2017

the earth..

Apakah Bumi Bulat Bola Atau Datar Menurut Pandangan Syariat?

https://muslim.or.id/28368-apakah-bumi-bulat-bola-atau-datar-menurut-pandangan-syariat.html
Image result for theory


Salah satu masalah yang sedang berkembang akhir-akhir ini adalah perdebatan mengenai bentuk bumi kita, apakah bulat ataukah datar. Pengetahuan yang selama ini diketahui umumnya orang adalah bahwa bumi itu bulat, namun berkembang juga pemahaman bahwa bumi itu datar atau disebut juga pemahaman flat earth. Beberapa ulama sebenarnya telah membahas hal ini, mereka membahas masalah bentuk bumi dari perspektif syariat. Tentunya mereka berdalil dengan yang tersirat dalam auat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengabarkan tentang alam semesta ini.

Klaim ijma bumi itu bulat
Perlu diketahui bahwa ada klaim ijma’ dari sebagian ulama bahwa bumi itu bulat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

وقال الإمام أبو الحسين أحمد بن جعفر بن المنادي من أعيان العلماء المشهورين بمعرفة الآثار والتصانيف الكبار في فنون العلوم الدينية من الطبقة الثانية من أصحاب أحمد : لا خلاف بين العلماء أن السماء على مثال الكرة ……

قال : وكذلك أجمعوا على أن الأرض بجميع حركاتها من البر والبحر مثل الكرة . قال : ويدل عليه أن الشمس والقمر والكواكب لا يوجد طلوعها وغروبها على جميع من في نواحي الأرض في وقت واحد ، بل على المشرق قبل المغرب

“Telah berkata Imam Abul Husain Ibnul Munadi rahimahullah termasuk ulama terkenal dalam pengetahuannya terhadap atsar-atsar dan kitab-kitab besar pada cabang-cabang ilmu agama, yang termasuk dalam thabaqah/tingkatan kedua ulama dari pengikut imam Ahmad: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa langit itu seperti bola

Beliau juga berkata: “Demikian pula mereka telah bersepakat bahwa bumi ini dengan seluruh pergerakannya baik itu di daratan maupun lautan, seperti bola

Beliau berkata lagi: “Dalilnya adalah matahari , bulan dan bintang-bintang tidak terbit dan tenggelam pada semua penjuru bumi dalam satu waktu, akan tetapi terbit di timur dahulu sebelum terbit di bara”1.

Demikian juga Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

أن أحد من أئمة المسلمين المستحقين لإسم الإمامة بالعلم رضي الله عنهم لم ينكروا تكوير الأرض ولا يحفظ لأحد منهم في دفعه كلمة بل البراهين من القرآن والسنة قد جاءت بتكويرها

“Para Imam kaum muslimin yang berhak mendapar gelar imam radhiallahu anhum tidak mengingkari bahwa bumi itu bulat. Tidak pula diketahui dari mereka yang membantah sama sekali, bahkan bukti-bukti dari Al-Quran dan Sunnah membuktikan bahwa bumi itu bulat”2.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

في كون الأفلاك كروية الشكل والأرض كذلك وأن نور القمر مستفاد من نور الشمس وأن الكسوف القمرى عبارة عن انمحاء ضوء القمر بتوسط الأرض بينه وبين الشمس

“Bahkan alam semesta dan bumi betuknya adalah bola, demikian juga penjelasan bahwa cahaya bulan berasal dari pantulan sinar matahari dan gerhana bulan terjadi karena cahaya bulan terhalang oleh bumi yang terletak antara bulan dan matahari”3.

Demikian juga pendapat bahwa beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dan ulama lainnya.

Batalnya klaim Ijma’
Perlu diketahui juga bawa ada beberapa ulama ada yang menafikan bahwa bumi itu bulat seperti Al-Qahthaniy Al-Andalusy dalam kitab Nuniyah-nya,

كذب المهندس والمنجم مثلهفهما لعلم الله مدعيان

الأرض عند كليهما كرويةوهما بهذا القول مقترنان

والأرض عند أولي النهى لسطيحةبدليل صدق واضح القرآن

“Telah berbohong ilmuan dan astronom yang semisal … mereka mengklaim atas ilmu Allah”

“Bumi menurut mereka bulat … mereka bergandengan dengan pendapat ini”

“Bumi menurut ahli ilmu agama adalah datar … dengan dalil yang jelas dari Al-Quran”4.

Demikian juga dalam Tafsir Jalalain, ketika menafsirkan ayat

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Al-Ghaasyiyah: 20).

Dijelaskan bahwa dzahir ayat bumi itu (سُطِحَتْ) “sutihat” menunjukkan bumi itu (سطحية) “sathiyyah” yaitu bulat, dalam tafsir dijelaskan,

سطحت ظاهر في أن الأرض سطح وعليه علماء الشرع لا كرة كما قاله أهل الهيئة

“Makna ‘sutihat’ zahirnya menunjukkan bahwa bumi itu datar dan dijelaskan oleh ulama, bukan bulat sebagaimana dikatakan oleh ahli astronom”5.

Demikian juga Al-Qurthubi dalam tafsirnya, membantah bahwa bumi bulat, ketika menafsirkan ayat,

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Hijr: 19).

Beliau Al-Qurthubi berkata,

وهو يرد على من زعم أنها كالكرة

“Ini adalah bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola”6.

Dari sini kita ketahui bahwa ada ulama yang menyelisihi klaim ijma’ yang disebutkan di atas.

Dalil-dalil yang digunakan kedua pendapat, dari Al-Quran dan As Sunnah
Masing-masing pendapat yang ada berdalil dengan Al Quran dan Sunnah dan saling membantah. Jika membahas dalil-dalil mereka maka cukup panjang, maka kita beri beberapa contoh saja:

1) Dalil bahwa bumi itu bulat menurut pro bumi bulat, surat Az Zumar ayat 5

Allah berfirman,

يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ

“Dia menutupkan/menggilirkan (takwrir) malam atas siang dan menutupkan/menggilirkan siang atas malam” (Az-Zumar : 5).

Pro bumi bulat berkata bahwa takwir itu bermakna lingkaran atau melingkari, misalnya melingkari penutup kepala imamah, karenanya bumi itu bulat-bola bergantian siang dan malam.

Pro bumi datar membantah bahwa justru itu dalil bahwa bumi itu datar dan berbentuk lingkaran (piring bulat), matahari dan bulan berputar melingkar di atas bumi dan menggantikan siang dan malam.

2) Dalil bumi itu datar menurut pro bumi datar, surat At Thur ayat 6

Yaitu posisi baitul makmur (ka’bah penduduk langit) yang berada tepat sejajar di atas ka’bah dunia di Mekkah

وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِْ وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِْ . وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ

“dan demi Baitul Ma’mur , dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. At-Thur: 4-6)

Al-Baghawi rahimahullah berkata,

والبيت المعمور، بكثرة الغاشية والأهل، وهو بيت في السماء حذاء العرش بحيال الكعبة

“Baitul Makmur: banyaknya yang memenuhi dan penduduknya, yaitu rumah di langit sekitar ‘Arsy dan sejajar dengan Ka’bah bumi” 7.

Pro bumi datar berkata: “Bagaimana mungkin bumi bulat-bola dan berputar kemudian baitul makmur sejajar dengan baitullah di Mekkah, bagaimana bisa sejajar kalau bumi-bulat berputar? berarti baitul makmur mutar-mutar di atas langit ikut bumi? Ini tidak masuk akal. Kalau bumi datar maka masuk akal jika sejajar”.

Pro bumi bulat membantah: “bisa jadi, ini hal ghaib yang tidak bisa masuk akal manusia, banyak hal ghaib yang tidak masuk akal kita sekarang, seperti di hari kiamat ada yang berjalan dengan wajahnya dalam Al-Quran. Orang dahulu tidak masuk akal jika ada yang bisa pergi ke tempat yang jauh dalam semalam saja, di zaman sekarang bisa saja dengan pesawat super cepat”.

3) Dalil bumi datar menurut pro bumi datar, surat Al Ghasyiyah ayat 20

Ayat yang menjelaskan bahwa bumi itu dihamparkan. Allah berfirman,

وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Dan (apakah manusia tidak mau memikirkan) bagaimana bumi itu dihamparkan?” (Al-Ghasyiyah: 20).

Pro-datar berkata: “ini sangat jelas mengatakan bumi dihamparkan, menghamparkan permadani misalnya, tentu pada benda yang datar”.

Pro-bulat membantah: “silahkan lihat penjelasan ulama semisal syaikh Al-Utsaimin8 dan fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah9 yang menjelaskan bahwa bumi itu datar bagi pandangan manusia dari bumi, sedangkan bentuk sebenarnya adalah bulat-bola”.

4) Dalil bumi bulat menurut pro bumi bulat, klaim ijma’ dari Syaikhul Islam, Ibnu Hazm dan beberapa ulama lain.

Namun klaim ijma’ ini perlu dikritik karena adanya pendapat lain dari ulama terdahulu seperti Al Qurthuby dan penulis Tafsir Jalalain yang telah di sebutkan di atas.

Sebenarnya masih banyak lagi dalil-dalil lainnya yang menjadi pembahasan dua kubu dan kita cukupkan saja contohnya sebagaimana di atas.

Tidak ada dalil yang tegas menyatakan bahwa bumi bulat atau datar
Setelah kita melihat pendalilan dua kelompok yang berbeda pendapat, maka kita dapatkan dalam satu dalil yang sama, bisa mereka gunakan untuk mendukung pendapat mereka masing-masing yang bertentangan padahal dalilnya sama. Memang dalam Al-Quran dan Sunnah tidak didapatkan dalil yang tegas dan jelas mengenai hal ini yang menyebut dengan tegas “bumi bulat-bola” atau “bumi datar”.

Kita bisa lihat yang pro-bulat menggunakan penjelasan syaikh Al-‘Utsaimin mengatakan bahwa bumi itu bulat dengan dalil dan penjelasan oleh Syaikh. Akan tetapi di sisi lain, Syaikh Al-Ustaimin dan juga Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa bumi adalah pusat tata surya dan tidak berputar sedangkan matahari yang mengelilingi bumi. Tentu ini bertentangan dengan sebagian orang yang pro bumi bulat, yang mereka menyakini bahwa bumi itu bulat dan mengelilingi matahari.

Tentunya Syaikh Al-‘Utsaimin dan Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa matahari mengelilingi bumi dengan penjelasan dalil dalam Al-Quran dan Sunnah. Syaikh Utsaimin menjelaskan,

أما رأينا حول دوران الشمس على الأرض الذي يحصل به تعاقب الليل والنهار، فإننا مستمسكون بظاهر الكتاب والسنة من أن الشمس تدور على الأرض دورانا

“Pendapat kami, matahari yang mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam, kami berpegang teguh dengan dzahir Al-Quran dan Sunnah bahwa matahari itu yang benar-benar mengelilingi bumi”10.

Syaikh Bin Baz juga menafikan bahwa bumi berputar (berarti matahari yang berputar mengelilingi agar terjadi siang dan malam), beliau berkata,

أما دورانها فقد أنكرته وبيَّنتُ الأدلة على بطلانه

“Adapun perputaran bumi maka aku ingkari dan aku telah jelaskan dalil tidak benarnya (perputaran bumi)”11.

Dalil yang mereka gunakan untuk pernyataan “matahari mengelilingi bumi” juga banyak, salah satunya yang menurut mereka cukup jelas bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi, yaitu hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa matahari bergerak di peredarannya dan tatkala sampai di bawah Arsy maka matahari bersujud.

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ يَوْمًا : أَتَدْرُوْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ اْلشَّمْسُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِيْ حَتىَّ تَنْتَهِيَ إِلىَ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ اْلعَرْشِ, فَتَخِرَّ سَاجِدَةً, فَلاَ تَزَالُ كَذَالِكَ حَتىَّ يُقَالَ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, اِرْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا, ثُمَّ تَجْرِيْ لاَ يَسْتَنْكِرُهَا اْلنَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتىَّ تَنْتَهِيَ عَلىَ مُسْتَقَرِّهَا ذَلِكَ تَحْتَ اْلعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, أَصْبِحِيْ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِِهَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: أَتَدْرُوْنَ مَتىَ ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ (لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا) (الأنعام: 158)

Dari Abu Dzar  bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan padanya: ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya”12.

Akan tetapi yang mengatakan bahwa “bumi mengelilingi matahari” bisa membantah juga: matahari itu memang bergerak dan mengelilingi pusat tata surya. Mereka berpegangan pada fatwa ulama yaitu Syaikh Al-Albani yang menyatakan bahwa bumi itu berputar dan beliau pun membawakan dalil dan penjelasannya. Syaikh Al Albani berkata:

نحن في الحقيقة لا نشك في أن قضية دوران الأرض حقيقة علمية لا تقبل جدلا

“Kami sejatinya tidak ragu bahwa perputaran bumi merupakan fakta yang ilmiah dan tidak bisa dibantah”13.

Demikianlah, kesimpulannya mengenai apakah bumi datar atau bulat-bola, maka tidak kita dapatkan dalil yang tegas menyebutkan “bumi itu bulat” atau “bumi itu datar”.

Yang benar adalah sesuai dengan penelitian dan fakta ilmiah ilmu dunia
Apakah bumi datar atau bulat maka kita kembalikan lagi kepada penelitian dan fakta ilmiah. Hal ini dicerminkan dari sikap Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di mana beliau menggabungkan kedua ilmu yaitu fakta ilmu dunia (yang menurut beliau benar) dan “yang tersirat” dalam Al-Quran dan Sunnah.

Simak tanya jawab beliau dan kehati-hatian beliau dalam berfatwa,

سؤال من مسلم بريطاني / هل في رأيكم أن العالم كروي أو مستقيم ؟
ج الشيخ : هذا السؤال جغرافي وإلا ديني ؟
س / كلاهما
ج الشيخ : كروي
س / هل أخطأ ابن باز حينما قال انها مستقيمة
ج الشيخ / مستقيمة أو مسطحة ؟
س / مسطحة
ج الشيخ / ليت أن الخطأ وقف عند المسألة الجغرافية

Pertanyaan untuk syaikh Al-Albani dari seorang muslim di Inggris:

Penyana: Apa pendapatmu, apakah bumi itu bulat atau datar?

Syaikh: Apakah ini pertanyaan geografi atau pertanyaan agama?

Penyanya: Keduanya

Syaikh: Bumi itu bulat-bola

Penanya: Jika demikian syaikh Bin Baz salah mengatakan bumi lurus (ingat ada klarifikasi bahwa syaikh Bin Baz mengatakan bumi itu bulat, pent)

Syaikh: Lurus atau datar?

Penanya: Datar

Syaikh: Saya berharap itu adalah kesalahan geografi (Syaikh Al-Albani yakin Syaikh bin Baz cerdas masalah agama sehingga, sehingga beliau berharap Syaikh bin Baz menjawab dengan pengetahuan beliau dari ilmu geografi, pent)14.

Dari tanya jawab ini kita dapat dua pelajaran penting:

Pertama: Syaikh Al-Albani sangat hati-hati berfatwa sehingga beliau bertanya apakah bumi bulat atau datar tersebut, apakah ditinjau dari segi ilmu agama atau ilmu geografi dan penanya menjawab “keduanya”. Maka syaikh Al-Albani menjawab bahwa bumi itu bulat, karena ditinjau dari ilmu geografi beliau bahwa bumi itu bulat, sedangkan dari ilmu agama, beliau lebih condong dengan dalil yang tersirat (bukan dalil tegas), karena tidak ada dalil yang tegas bahwa bumi itu bulat

Beliau menjelaskan setelah tanya jawab tadi bahwa tidak ada dalil tegasnya, beliau berkata,

ليس هناك نص قاطع يؤيد أحد الوجهين المختلفينبعض الآيات من القرآن الكريم التي تتعلق بهذا الموضوع يمكن أن يفهم منها ثبات الأرض وسطحيتها ، والبعض الآخر يمكن أن يفهم منها حركتها ودورانها

“Tidak ada dalil tegas yang mendukung dua pendapat yang berbeda ini… sebagian ayat Al-Quran yang berkaitan dengan hal ini bisa jadi dipahami bahwa bumi itu tetap dan datar dan sebagian ayat lainnya bisa saja dipahami bumi bergerak dan berputar.”

Bahkan beliau menegaskan selanjutnya, permasalahan bumi itu bulat atau datar bukanlah permasalahan aqidah, beliau berkata

ولهذا قلنا أن هذه ليست مسألة اعتقادية

“Karenanya kami katakan bawa masalah ini bukanlah masalah i’tiqadiyah”15.

Tentunya jika memang masalah aqidah tentu sudah dibahas dan menjadi penekanan utama oleh banyak ulama dalam berbagai kitab mereka.

Kedua: Lihat sikap Syaikh Al-Albani yang bersebrangan dengan Syaikh Bin Baz, beliau sangat berharap Syaikh Bin Baz hanya salah dalam ilmu geografi saja dan ini wajar karena Syaikh Bin Baz bukan ahli geografi dan hanya ikut saja dari apa info yang sampai ke beliau.

Patut direnungi oleh sebagian kecil saudara kita muslim yang mungkin saling berdebat apakah bumi itu bulat atau datar sampai tahap mencela, menyindir dan sampai bermusuhan dalam masalah ini, padahal mereka bersaudara dalam Islam dan yang lebih penting hal ini bukanlah permasalahan aqidah.

Kesimpulan dari tulisan kami:
Tidak ada dalil yang tegas dalam Al-Quran dan Sunnah yang menyatakan bahawa bumi itu bulat atau datar, sedangkan klaim ijma yang ada perlu dipertanyakan validitasnya, karena diketahui ternyata ada beberapa ulama yang menyelisihi klaim ijma’ tersebut
Permasalahan apakah bumi bulan atau datar bukanlah permasalahan aqidah.
Jika memang bukan permasalahan aqidah terutama, tidak layak bagi kaum muslimin berpecah belah dalam hal ini, saling mencela, menyindir dan bermusuhan dalam rangka mendukung pendapatnya.
Karena bukan masalah aqidah maka tidak bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir hanya karena keyakinan apakah bumi bulat atau datar. Karenanya syaikh Bin Baz ketika mengingkari bumi berputar (beliau berpendapat bumi diam), tetapi beliau tidak mengkafirkan yang mengatakan bumi berputar, beliau berkata,
ولكني لم أكفِّر من قال به

“Akan tetapi aku tidak mengkafirkan mereka yang mengatakan demikian”16.

Apakah bumi itu bulat atau datar maka dikembalikan kepada penelitian dan fakta ilmiah dan tentunya oleh para ahlinya dalam masalah ini. Allah berfirman,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl:43).

Dalil Al-Quran dan Sunnah yang sudah pasti dan tegas (dalil qath’i) tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah dan akal manusia yang sehat. Sebagaimana dijelaskan bahwa tidak ada dalil tegas apakah bumi itu bulat atau datar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan,
كل ما قام عليه دليل قطعي سمعي يمتنع أن يعارضه قطعي عقلي

“Semua yang telah ada dalil pasti/qath’i maka tidak bertentangan dengan akal yang sehat”17.

Yang lebih penting adalah dari “bumi datar atau bulat” adalah kita hidup di atas bumi, akan meninggalkan bumi menuju kampung akhirat yang kekal serta bagaimana agar bumi sebagai tempat mencari bekal untuk pulang ke kampung akhirat yaitu bekal iman, takwa, amal kebaikan yang bermanfaat bagi manusia dan makhluk di muka bumi.
Demikian pemabahasan ini, semoga bermanfaat bagi kita.

***

@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar, Sabalong-Samalewa

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel Muslim.or.id



___

Lihat Majmu’ Fatawa: 25/ 195
Fashl fil Milal 2/78, Maktabah Al-Kaniwy, Koiro, Syamilah
Miftah Daris Sa’adah 2/212, Darul Kutub Ilmiyah, Koiro, Syamilah
Nuniyyah Al-Qahthani, Maktabah As-Sudaniy, Jeddah, Syamilah
Tafsir Jalalain 1/805, Darul Hadits, Koiro, Syamilah
Tafsir Al-Qurthubi 10/13, Darul Kutub Al-Mishriyyah, Koiro, 1384 H, Syamilah
Ma’alimut Tanzil 7/382, Darut Thayyibah, cet. IV, 1414 H, syamilah. Silahkan baca tulisan kami selengkapnya mengenai posisinya sejajar di link https://muslim.or.id/16573-mengenal-baitul-makmur-kabah-penduduk-langit.html
Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail 8/664
Fatwa Al-Lanah Ad-Daimah 26/414
Majmu’ Fatawa wa Rasail 1/71, Darul Wathan, 1413 H, syamilah
Majmu Fatawa Syaikh Bin Baz 9/228, bisa di akses di link ini juga: http://www.binbaz.org.sa/article/472
HR. Bukhari dan Muslim
Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/497. Simak juga penjelasan beliau di sini: https://www.youtube.com/watch?v=PdBDFXtYKhU
Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436
Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436
Majmu Fatawa syaikh Bin Baz 9/228, bisa diakses juga di link: http://www.binbaz.org.sa/article/472

Dar’ut Ta’arudh 1/80







     































Rabu, 8 November 2017

Is Jesus God?




Hightlight Debate - Ahmed Deedat VS Stanley Sjoberg

Sheikh Ahmed Hoosen Deedat Al-Hafiz (lahir 1 Julai 1918 – meninggal 8 Ogos 2005 pada umur 87 tahun) adalah seorang cendekiawan Muslim dalam bidang perbandingan agama (comparative religion). Beliau juga merupakan seorang pengarang, pensyarah, dan juga pemidato. Beliau dikenali dunia sebagai salah seorang pakar pembicara yang amat handal khususnya dalam sesi perdebatan umum yang memerihalkan tentang masalah keagamaan Islam bersama agama-agama lain. Pada tahun 1957, Deedat bersama dua orang temannya telah mendirikan Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan beliau telah menjadi Presidennya sehingga tahun 1996. Deedat meninggal dunia pada tahun 2005 akibat mengalami angin ahmar yang telah dideritanya sejak tahun 1996

Ahmed Hoosen Deedat dilahirkan di daerah Surat, Gujarat, India, pada tahun 1918. Beliau tidak dapat kekal bersama ayahnya sehingga tahun 1926. Ayahnya adalah seorang penjahit, akibat dari pekerjaan ayahnya itu, ayahnya telah mengambil keputusan untuk berhijrah / berimigrasi ke Afrika Selatan tidak lama setelah kelahiran Ahmed Deedat.
Tanpa pendidikan formal dan untuk menghindari kemiskinan yang amat larat, Ahmed Deedat telah pergi ke Afrika Selatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bersama ayahnya pada tahun 1927. Perpisahan Deedat dengan ibunya akibat pemrgiannya ke Afrika Selatan bersama ayahnya itu adalah saat terakhir ia bertemu dengan ibunya dalam hidupnya kerana ibunya telah meninggal dunia beberapa bulan kemudian (dari tarikh penghijrahan Deedat bersama ayahnya ke Afrika Selatan).
Di negeri yang asing, seorang anak lelaki kecil berusia 9 tahun tanpa berbekal pendidikan formal dan penguasaan bahasa Inggeris telah mula menyiapkan peranan yang harus dimainkannya berpuluh-puluh tahun kemudian tanpa disedarinya.
Dengan ketekunannya dalam belajar, anak lelaki kecil tersebut (yakni Deedat) tidak hanya dapat mengatasi hambatan bahasa asing, tetapi juga unggul di sekolahnya. Kegemaran dan hobi Deedat dalam membaca telah menolongnya untuk memudahkan dirinya mendapatkan promosi pendidikan sehingga beliau tamat pendidikan pada darjah 6. Kekurangan pembiayaan pelajaran menyebabkan sekolahnya tertunda dan di awal usia 16 tahun untuk pertama kalinya ia bekerja dalam bidang peruncitan.
Yang penting sekali adalah pada tahun 1936, sewaktu beliau bekerja di kedai Muslim berdekatan sebuah sekolah menengah Kristian di pantai selatan Natal. Penghinaan yang tidak henti-henti dari siswa Misionaris menentang Islam selama kunjungan mereka ke kedai Muslim telah menanamkan keinginan beliau yang membara untuk melakukan aksi menghentikan propaganda misionari tersebut

Mempelajari kitab Bible
Ahmed Deedat telah berjaya menemui sebuah buku berjudul Izharul-Haq yang bererti mengungkapkan kebenaran. Buku ini berisi teknik-teknik dan keberhasilan usaha-usaha umat Islam di India yang sangat besar dalam membalas gangguan Misionaris Kristian ketika era penaklukan Inggeris dan pemerintahan India. Secara khusus, idea untuk menangani debat telah berpengaruh besar dalam jiwa dan diri Ahmed Deedat. Ahmed Deedat juga turut menghafaz Al-Quran sehinggakan beliau digelar Al-Hafiz.
Beberapa minggu setelah itu, Ahmed Deedat membeli Injil pertamanya dan mula melakukan debat dan diskusi dengan siswa-siswa misionaris. Ketika siswa misionaris tersebut mundur dalam menghadapi hujah balik Ahmed Deedat, beliau secara peribadi telah memanggil guru teologi Kristian kepada siswa-siswa misionaris untuk berdebat bersamanya, bahkan pendeta-pendeta Kristian di daerah tersebut juga turut diajak berdebat bersama Deedat.
Keberhasilan-keberhasilan ini telah memacu Ahmed Deedat untuk berdakwah. Bahkan perkahwinan, kelahiran anak, dan persinggahan sebentar selama tiga tahun ke Pakistansesudah kemerdekaannya tidak mengurangkan keinginannya untuk membela Islam dari penyimpangan-penyimpangan yang memperdayakan hasil dari para misionaris Kristian yang tidak bertanggungjawab.
Dengan semangat kental untuk menyebarkan agama Islam, Ahmed Deedat telah membenamkan dirinya dalam kegiatan dakwah selama lebih 3 dekat. Beliau memimpin kelas bagi subjek Injil dan memberi sejumlah kuliah ilmu. Beliau mendirikan As-Salaam, sebuah institut untuk melatih para pendakwah Islam. Ahmed Deedat, bersama-sama dengan keluarganya, mendirikan bangunan-bangunan termasuk Masjid yang masih dikenali sehingga saat ini.
Ahmed Deedat adalah anggota paling awal yang menganggotai Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan menjadi Presidennya, suatu jawatan yang disandangnya sampai tahun 1996. Ia menerbitkan lebih dari 20 buku dan menyebarkan berjuta-juta salinan secara percuma.
Ahmed Deedat mengirimkan beribu-ribu bahan kuliah ke seluruh dunia dan berdebat dengan penyebar-penyebar Injil pada debat umum. Beribu-ribu orang telah memeluk Islam atas Rahmat Allah serta hasil usahanya yang tidak pernah mengenal erti penat lelah.
Sebagai penghargaan yang tertinggi untuk prestasinya yang bersejarah itu, beliau telah dianugerahkan penghargaaan antarabangsa dari Raja Faisal pada tahun 1986. Penghargaan berprestij yang sangat berharga dalam dunia Islam.

Akhir hayat

 Sisa sembilan tahun usia hidupnya, Ahmed Deedat hanya boleh berbaring di tempat tidurnya di Verulam, Afrika Selatan. Dan akhirnya pada 8 Ogos 2005, beliau telah menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumahnya di Trevennen Road di Verulam, provinsi KwaZulu-Natal, Durban. Beribu-ribu orang yang kebanyakan dari umat Islam telah berhimpun di rumahnya dan menunaikan Solat jenazah untuknya. Lantas jasad beliau dimakamkan di pemakaman Verulam.




Perbezaan Antara Jesus dan Nabi Isa

2.1 Kelahiran Jesus atau Nabi Isa
“Kelahiran Jesus Kristus adalah seperti berikut: pada waktu Maryam, ibu-Nya
bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Khudus, sebelum mereka
hidup sebagai suami isteri. Ini disebabkan Yusuf suaminya seorang yang tulus hati dan
tidak mahu mencemarkan nama isterinya di khalayak ramai, ia bermaksud
meceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu,
Malaikat Tuhan Nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: Yusuf, anak Daud,
janganlah engkau takut mengambil Maryam sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam
kandungannya adalah dari Roh Khudus. Ia akan melahirkan anak lelaki dan engkau
akan menamakan dia Jesus, kerana dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari
dosa mereka.”
(Matius 1:18-21)

Seterusnya cerita kelahiran Jesus diteruskan lagi oleh oleh penganut Kristian. Mereka
menceritakan bagaimana Jesus atau Nabi Isa dilahirkan oleh ibunya di sebuah kandang haiwan
yang bersebelahan sebuah pondok kecil di desa itu. Mereka mengatakan bahawa sebahagian dari
pengembala (penyembah berhala) telah datang ke tempat Jesus yang dilahirkan dan bersembah
sujud kepadanya, serta memberi berbagai hadiah, kerana mereka meyakini bahawa anak yang
dilahirkan itu akan menjadi raja bangsa Yahudi. Dikisahkan juga bahawa raja yang berkuasa di
negeri Yahudi pada ketika itu, iaitu Raja Herodes menggigil ketakutan setelah mengetahui
lahirnya bayi tersebut. Dia takut kalau-kalau kerajannya akan ditumbangkan oleh anak itu. Oleh
kerana terlalu takut dia memerintahkan tenteranya untuk menyembelih semua anak Yahudi yang
lahir di Betlehem dan sekitarnya dengan harapan bahawa Jesus adalah salah satu bayi yang
disembelih. Namun, Maryam dan suaminya Yusuf telah terlebih dahulu membawa Jesus ke
Mesir dan tidak pulang-pulang lagi sehingga Raja Herodes meninggal dunia.3 Demikian yang
diceritakan di dalam kitab Injil.

Apa pula yang diceritakan di dalam al-Quran? Al-Quran memulakan cerita dengan
menyebut berita gembira yang disampaikan oleh malaikat kepada Maryam bahawa ia akan diberi
seorang putera yang suci. Allah berfirman yang bermaksud:

“Dan bacakanlah (wahai Muhammad) di dalam kitab al-Quran ini perihal Maryam,
tatkala ia memencilkan diri dari keluarganya di sebuah tempat sebelah timur. Kemudian
Maryam membuat dinding untuk melindungi dirinya dari mereka; maka Kami hantarkan
kepadanya: roh dari Kami, lalu ia menyamar diri kepadanya sebagai seorang lelaki,
yang sempurna bentuk kejadiannya. Maryam berkata: ‘sesungguhnya aku berlindung
kepada (Allah) ar-Rahman daripada (gangguan) mu; kalaulah engkau seorang yang
bertakwa.’ Ia berkata: ‘sesungguhnya aku pesuruh Tuhanmu, untuk menyebabkanmu
dikurniakan seorang anak yang suci’. Maryam bertanya dengan cemas ‘bagaimanakah
aku akan beroleh seorang anak lelaki, padahal aku tidak pernah disentuh oleh seorang
lelaki pun, dan aku pula bukan perempuan jahat?’ Ia menjawab: ‘Demikianlah keadaan
tak usah dihairankan; Tuhanmu berfirman; Hal ini mudah bagi-Ku; dan Kami hendak
menjadikan pemberian anak itu sebagai satu tanda (yang membuktikan kekuasaan Kami)
untuk umat manusia, dan sebagai satu rahmat daripada Kami; dan hal itu adalah satu
perkara yang ditetapkan berlakunya’.”
(Surah Maryam: 16-21)

Al-Quran selanjutnya menceritakan seksaan batin yang dideritai oleh Maryam dan
kehamilannya itu dan usahanya menjauhkan diri dari kelompok masyarakat untuk menghindari
caci maki mereka yang menyakitkan. Seterusnya diceritakan bahawa Maryam lebih suka
memilih mati daripada hidup terhina di tengah-tengah masyarakat.5 Firman Allah yang
bermaksud:
Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke
tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (besandar) pada
pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan
aku menjadi sesuatu yang tidak bererti, lagi dilupakan. Maka Jibril menyerunya dari
tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah
menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke
arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.
Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia,
maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Yang Maha
Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya
berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat
mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang penjahat
dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang penzina”.6
(Surah Maryam: 22-28)

Demikianlah firman Allah dalam al-Quran yang telah memutihkan maruah Maryam dan
menyucikan puteranya dari fitnah, mengangkat nama baik puteranya dari tuduhan anak haram
dan mengeluarkannya dari tuduhan sebagai wanita penzina. Bahkan Maryam telah diangkat
sebagai wanita pilihan Allah di dunia. Betapa beruntung seorang wanita biasa seperti Maryam.
Sedang hari ini terlalu ramai wanita melahirkan anak luar nikah, belum termasuk bayi-bayi yang
dibuang di celah-celah longkang, tong sampah dan lain-lain. Dan mereka tidak pernah malu
dengan caci maki masyarakat sedangkan Maryam sanggup memencilkan diri dari masyarakat,
demi mengelak dihina dan dikatakan penzina sedangkan anak yang dikandungkannya itu
bukanlah hasil dari maksiat yang dilakukannya.

 Gelaran Jesus dan Nabi Isa

Dalam agama Kristian terdapat beberapa gelaran Jesus. ‘Jesus’ merupakan perkataan
Yunani yang bermaksud ‘Tuhan menolong’7
. Selain itu Jesus juga dikenali sebagai Kristus yang
bermaksud diurapi atau dijadikan khusus oleh Allah menjadi nabi dan imam yang tiada taranya.
Manakala dalam agama Islam gelaran bagi Nabi Isa adalah al-Masih. Gelaran al-Masih
disebut di dalam al-Quran sebanyak 11 kali, nama Isa sebanyak 25 kali dan Ibnu Mariam
sebanyak 23 kali. Kesemuanya tersebut dalam:
a. Surah al-Baqarah ayat 87, 136 dan 235.
b. Surah Ali ‘Imran ayat 45, 52, 55, 59,dan 84.
c. Surah an-Nisa ayat 157, 163, 171, dan 172.
d. Surah al-Maidah ayat 17, 46, 72, 75, 78, 110, 112, 114 dan 116.
e. Surah al-An’am ayat 85.
f. Surah at-Taubah ayat 30 dan 31.
g. Surah Maryam ayat 34.
h. Surah al-Mukminun ayat 50.
i. Surahal-Ahzab ayat 7.
j. Surah asy-Syura ayat 13.
k. Surah az-Zukruf ayat 57 dan 63.
l. Surah al-Hadid ayat 27.
m. Surah as-Shaf ayat 6 dan 148
.
Walau bagaimanapun terdapat seorang tokoh iaitu Dr. F.L Bakker yang menulis dalam
bukunya bertajuk Tuhan Jesus di dalam Agama Islam meyatakan bahawa al-Quran telah
mengubah nama Jesus. Tuduhan tersebut adalah tidak berasas kerana dalam buku tafsiran Injil
ada menyatakan bahawa sebutan nama Jesus menurut bahasa Iberani adalah ‘Jeschua’ atau
‘Josua’. Apabila nama itu dilafazkan di dalam bahasa Arab akan berlaku sedikit perubahan bunyi
‘Iesaa’ (Jo=’Ie_sua=saa). Kemudian dalam bahasa Indonesia ditulis ‘Isa’. Melalui penjelasan ini
terbuktilah bahawa tidak berlaku sebarang perubahan nama Jesus di dalam al-Quran seperti yang
diuar-uarkan oleh beliau. Dan bagaimana pula terdapat perubahan nama nabi Isa di dalam alQuran
sedangkan al-Quran itu adalah kata-kata dari Allah yang Maha mengetahui segalanya
termasuk apa yang tidak diketahui oleh manusia.

2.3 Hubungan Jesus atau Nabi Isa dengan Allah

Bagi agama Kristian, Jesus merupakan anak tunggal kepada Allah.
“Ia akan menjadi besar dan akan disebut anak Allah yang Maha Tinggi. Dan Allah akan
mengurniakan kepadanya takhta Daud, bapa leluhurnya dan Ia akan menjadi atas kaum
keturunanYakkub buat selam-lamanya dan kerajaannya tidak akan berkesudahan”
(Lukas 1:32-33)

Sememangnya terdapat beberapa pihak yang menyangkal perkara tersebut. Hal ini
kerana, dalam masyarakat Yunani dan Rom gelaran ‘anak Allah’ digunakan seorang raja dan
pahlawan yang berjaya memerintah negeri yang aman. Di samping itu, dikatakan juga terdapat
catatan di dalam buku-buku yahudi bahawa gelaran tersebut hanyalah untuk orang-orang yang
soleh sahaja. Namun adalah sesuatu yang pasti bahawa Jesus ada menyatakan “Barangsiapa yang
melakukan kehendak bapaku yang di syurga, ialah saudaraku laki-laki dan saudaraku yang
perempuan”. Penganut Kristian juga mengatakan di dalam kitab Injil tercatat bahawa Jesus
adalah seorang manusia yang lahir dari Maryam adalah lebih dari seorang manusia yang sudah
wujud sejak awal dan dekat dengan Allah. Demikian gambaran Jesus dalam agama Kristian.10
Berbeza pula dengan agama Islam, Allah berfirman yang bermaksud:
Ketika malaikat berkata: “Hai Maryam sesungguhnya Allah menggembirakan kamu
(dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya,
namanya al-Masih Isa putra Maryam , seorang terkemuka di dunia akhirat dan
termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Dan dia berbicara dengan
manusia dalam buaian, dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk orang-orang yang
shalih”.

Maryam berkata, “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku
belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.”
Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), “Demikianlah Allah menciptakan apa yang
dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Allah hanya cukup
berkata ‘Jadilah’, lalu jadilah dia.”
(Surah Imran : 45-47)

Jelaslah bahawa ayat di atas menyatakan bahawa Nabi Isa dilahirkan oleh ibunya yang
tidak disentuh oleh mana-mana lelaki pun yang bermaksud Nabi Isa merupakan anak manusia
iaitu Maryam yang dilahirkan tidak berbapa. Firman Allah yang bermaksud:

Dan orang-orang Yahudi: “Uzair ialah anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata:
“Al-Masih ialah anak Allah”. Demikianlah mereka dengan mulut mereka sendiri, (iaitu)
mereka menyamai orang-orang kafir dahulu semoga Allah binasakan mereka.
Bagaimanakah mereka boleh berpaling dari kebenaran?
(Surah At-Taubah :30)

Jelas bahawa ayat tersebut menyatakan bahawa Allah tidak beranak dan tidak ada Tuhan
lain selain-Nya. Pengakuan orang Nasrani yang menyatakan al-Masih merupakan anak Allah
adalah meniru dan menyerupai orang-orang kafir dahulu yang menyatakan Allah juga beranak.
Nabi Isa adalah anak manusia biasa yang makan dan minum seperti anak-anak manusia yang lain
juga. Bagi umat Islam kelahiran Nabi Isa yang tidak berbapa itu bukanlah sesuatu yang ganjil.
Peristiwa tersebut adalah tanda kekuasaan Allah yang Maha Berkuasa.13 Jika benar Nabi Isa itu
adalah anak Allah, maka bererti Allah itu setaraf dengan manusia, kerana hanya manusia dan
binatang yang mempunyai anak. Dan jika Allah itu setaraf dengan manusia dan binatang,
semestinya Dia tidak layak disembah.

Jesus adalah Tuhan, Nabi Isa adalah Nabi dan Rasul

Ds. B.J Boland ada menulis bahawa Jesus adalah Tuhan yang bermaksud ia mempunyai
segala kuasa baik di syurga mahupun di bumi.
14 Agama Kristian ada menyatakan bahawa apabila
Jesus disebut sebagai Tuhan maka sebutan itu adalah terjemahan daripada kata Yunani iaitu
Kyrios15. Kristian mengaku juga bahawa Jesuslah yang sebenar-benar Kyrios yang mutlak dan
tiada bandingannya. Bagi mereka juga Jesus adalah Tuhan yang menjalankan kuasa
pemerintahan, dia yang berkuasa penuh terhadap perbuatan, perkataan, malah kehidupan dan
kematian kita. Dia yang berkuasa penuh ke atas bumi dan alam semesta, ke atas sekalian
manusia, malaikat, kuasa-kuasa jahat, syurga dan neraka.16
Selain itu agama Kristian juga menganggap Jesus sebagai nabi. Menurut kitab Injil,
seorang nabi adalah individu yang dituntun oleh Allah. Pengaruh Tuhan berlaku terhadap orang
tersebut. Maka orang yang menjadi nabi mendapat kelebihan untuk mengetahui perkara-perkara
yang tersembunyi dari orang lain. Dr. D. Bakker mengatakan bahawa:
Tuhan Jesus adalah nabi. Perkerjaan nabi itu menyatakan kehendak Tuhan Allah tentang
jalan yang lebih baik bagi manusia yang berdosa. Tuhan Jesus adalah nabi yang Maha
Tinggi.17
Berbeza dengan agama Islam, Nabi Isa adalah seorang nabi dan Rasul bagi Bani Israil.

Firman Allah yang bermaksud:
Kata (Isa) : Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Ia telah memberikan kepadaku kitab
(Injil), dan Ia telah menjadikan daku seorang Nabi.
(Surah Maryam:30)
Firman Allah yang bermaksud:
Ketika Isa anak Maryam berkata: Hai Bani Israil! Sesungguhnya aku rasul Allah untuk
kamu, membenarkan Taurat yang dihadapanku dan menyampaikan khabar gembira
dengan kedatangan seorang rasul dikemudianku namanya Ahmad. Tatkala rasul itu telah
datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang terang, mereka berkata: Inilah sihir yang
nyata.
(Surah as-Shaf:6)
18
Ayat-ayat dia atas jelas menunjukkan bahawa Nabi Isa adalah seorang rasul yang diutus
oleh Allah untuk Bani Israil. Dan baginda diutus untuk menyampaikan khabar gembira tentang
kedatangan seorang rasul yang selepasnya bernama Ahmad iaitu Nabi Muhammad s.a.w. Allah
itu adalah Tuhan, nabi Isa adalah nabi. Tidak mungkin Tuhan menjadi nabi dan nabi Isa menjadi
Tuhan. Sedangkan Islam itu percaya kepada rukun iman iaitu beriman kepada ALLAH, beriman
kepada malaikat-malaikat, beriman kepada kitab-kitab, beriman kepada Rasul, beriman kepada
hari kiamat, dan beriman kepada Qada dan Qadar. Islam tidak mengatakan bahawa Tuhan itu ada
tiga, empat atau lima. Tuhan itu cuma satu, bukan nabi Isa tetapi Allah s.w.t.

 Jesus atau Nabi Isa sebagai Hakim

Dalam agama Kristian ada menyatakan bahawa Pengakuan Imam Rasul 19menerangkan
tentang Jesus seperti berikut: “pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, naik ke
syurga, duduk di sebelah kanan Allah, bapa yang Maha kuasa dan akan dari sana untuk
menghakimi orang yang hidup dan yang mati”.20 Pengakuan ini menyatakan bahawa Jesus akan
muncul lagi untuk meghakimi orang yang hidup dan yang mati. Mengenai kemunculan Jesus
tersebut, Dr. R. Soedarmo ada menulis bahawa:

“Tuhan Jesus akan datang kembali untuk menghakimi kita. Bilakah? Tidak ada seorang
pun yang menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin waktu kemunculan itu masih jauh
tetapi mungkin juga sudah semakin hamper.oleh kerana itu berjaga-jagalah”.21
Anggapan ini mempunyai sedikit persamaan tetapi tetap berbeza dalam agama Islam.
Nabi Muhammad s.a.w menerangkan bahawa Nabi Isa akan muncul lagi untuk kedua kali
sebagai hakim yang adil dan akan menghancurkan salib. Baginda bersabda:
Maksudnya: Demi Tuhan yang diriku di tangan-Nya, sesungguhnya hampirlah akan
turun pada kamu (Isa) anak Maryam menjadi hakim yang adil. Maka ia akan
menghancurkan salib dan ia akan membunuh babi.
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan sabda Rasulullah ini jelas bahawa Nabi Isa akan muncul lagi untuk menjadi
hakim yang adil. Baginda akan menentukan berbagai-bagai hukuman dia antara manusia dengan
berpandukan al-Quran seperti yang telah diterangkan dalam hadis yang lain. Baginda akan
menghancurkan salib iaitu agama Kristian kerana agama tersebut telah membawa namanya
sedangkan ajarannya jauh menyeleweng dari agama yang telah diajarkan kepada manusia
dahulu. Kemudian, baginda akan membunuh nabi iaitu melarang orang memelihara dan
memakan babi.22 Persamaan antara agama Islam dan Kristian ialah nabi Isa akan muncul lagi
namun perbezaannya ialah bagi Kristian nabi Isa akan menyelamatkan mereka sedangkan bagi
Islam nabi Isa akan menghancurkan Kristian.

 Peristiwa Penyaliban Jesus atau Nabi Isa
Menurut kitab Injil, Jesus telah disalibkan dan mati di atas kaju salib. Keterangan
mengenai pensaliban Jesus dinyatakan berulang kali di dalam kitab Injil. Oleh itu, agama
Kristian mengandaikan Jesus mati di atas kaju salib. Menurut kitab perjanjian Lama, orang yang
mati tergantung adalah terkutuk. K. Riedel ada menulis bahawa orang Yahudi tidak biasa
menyalibkan orang yang dihukum mati, melainkan mereka direjam, lalu digantung pada suatu
kaju. Orang yang mati sedemikian dipandang sebagai orang yang dikutuk oleh Allah.
Berbeza dalam agama Islam, Jesus atau Nabi Isa sebenarnya tidak disalib. Allah
berfirman yang bermaksud:

"Dan kerana ucapan mereka" 'Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, 'Isa
putera Maryam, Rasul Allah' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula)
menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi
mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang (pembunuhan) 'Isa,
benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai
keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka,
mereka tidak (pula) yakin bahawa mereka bunuh itu adalah 'Isa.
"tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Surah an-Nisa : 157-15823

Ayat ini membuktikan tanpa ditutupi, bahawa semua itu hanya merupakan cerita yang tidak ada
sal usulnya. Malah tidak pernah terdapat riwayat sanad yang sahih yang boleh dijadikan sandaran
terhadap kisah ini. Kristian menganggap mereka yang mati tergantung di kaju salib iaitu nabi Isa
adalah seorang yang mati terkutuk. 24Namun mereka tetap menyembah dan menganggap nabi Isa
adalah salah satu Tuhan dan anak Tuhan. Jika nabi Isa disembah kerana lahir tidak berbapa,
cuba anda fikirkan antara ibu dan anak, mana yang lagi mulia? Tentu ibu kan? Jadi, kenapa
orang Kristian tidak menyembah Maryam saja? Bukankah Mariam itu ibu, tentu lagi mulia. Nabi
Adam merupakan manusia pertama juga lahir tanpa bapa, malah tanpa ibu juga. Jadi, kenapa
bukan Adam yang disembah ?
Firman Allah swt :
"Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Nabi Isa di sisi Allah adalah sama seperti
(kejadian) Nabi Adam. Allah telah menciptakan Adam dari tanah lalu berfirman
kepadanya: "Jadilah engkau!" maka menjadilah ia.
(Surah Al-Imran: 59)

3.0 Kesimpulan
Walaupun Islam dan Kristian berkongsi nabi yang sama namun terdapat banyak perbezaan
antara Jesus dan Nabi Isa termasuklah dalam peristiwa kelahiran, gelaran, kedudukan serta
peristiwa penyaliban baginda. Perbezaan antara Jesus dan Nabi Isa bagai langit dan bumi
walaupun baginda adalah individu yang sama. Sebagai seorang penganut agama Islam, kita
mestilah percaya kepada setiap perkara yang tercatat di dalam al-Quran. Al-Quran telah
membuktikan bahawa Nabi Isa adalah seorang nabi dan rasul. Baginda bukan anak Allah seperti
yang dipercayai oleh penganut Kristian. Baginda juga masih hidup tetapi telah diangkat ke langit
oleh Allah ketika Yahudi merancang membunuh baginda. Malah orang yang disalib seperti yang
disembah oleh penganut Kristian pada hari ini sebenarnya bukanlah Nabi Isa. Terdapat
tanggapan bahawa individu yang disalib itu adalah pengkhianat yang bersekongkol bersama
Yahudi untuk membunuh Nabi Isa namun terdapat juga tanggapan lain bahawa invividu tersebut
adalah penyokong Nabi Isa. Pendek kata, Nabi Isa boleh menjadi Jesus tetapi Jesus tidak akan
menjadi Nabi Isa. Hal ini bermaksud penganut agama lain khususnya Kristian boleh
mempercayai kebenaran tentang nabi Isa seperti yang tercatat dalam al-Quran namun penganut
agama Islam tidak boleh mempercayai pembohongan-pembohongan tentang Jesus seperti yag

tercatat dalam kitab Injil.



Bibliografi


Abu Husny. Nabi Isa Dalam Pandangan Islam. Penerbitan Pustaka Antara: Kuala Lumpur. 1967
Ahmad Deedat. Injil Membantah Ketuhanan Yesus. Syarikat S. Abdul Majeed: Kuala Lumpur. 1991
Ahmad Rafaai Ayudin. Perselisihan Tentang Nabi Isa. Penerbitan Al-Khautsar: Kuala Lumpur. 1994
Endo Shusaku. A Life of Jesus. C.E Tuttle: Tokyo. 1979
H. Hasbullah Bakry. Nabi Isa dalam al-Quran dan Nabi Muhammad dan Bible. Mutiara: Jakarta. 1983
H.M Arsjad Thalib Lubis. Perbandingan Kristen dan Islam. Firma Islamyah Medan: Medan. 1971
Maamiry Ahmed Hamoud. Jesus Christ as Known by Muslims. Lancer Books: New Delhi. 1989
Muhammad ‘Ataur Rahim. Jesus a Prophet of Islam. Perniagaan Jahabersa: Johor. 1999
Nora. Nabi ‘Isa tidak disalib dan Nabi Musa dengan Raja Firaun. Mainor: Singapura. 1968
Perang Salib: Bagaimana Ia Bermula dan Berakhir. 2011
http://www.kembarahadi.com/2013/02/perang-salib-bagaimana-ia-bermula-dan.html

Sou’yb Joesoef. Isa Nabi Umat Islam=Jesus Prophet of Islam. Madju: Jakarta. 1984